Aku percaya Tuhan menjawab doa ku. Tuhan memberikan yang aku butuhkan. Setelah begitu banyak peristiwa yang aku jalani, yang menempa dan membentuk diriku, akhirnya semua menjadi indah pada waktunya.
Tuhan yang paling tahu, kapan Dia memberi. Dia memberi disaat aku siap. Dan sekarang waktunya. Tuhan memberi semua yang aku butuhkan dalam waktu bersamaan.
Terima kasih Tuhan.
Selasa, 16 September 2008
Senin, 15 September 2008
God speaks
It was at 11.45. I just returned from another section in my office. My boss entered the room and said something, mumbling. All I heard only ' you and me to the head office at 13.30 today '. Then My colleage replied 'who? Three of us or...?'. And my boss firmly said to my colleage 'You and me only'.
I didn't ask what they two going to do. I can only see something wrong in my boss eyes. I just let it go. On the way to head office, my boss called me and aske to replace him on the meeting with consultant.
At 15.00, heard a news. My coworker is fired. I don't know what happened. I just shocked. Because my coworker is a brother of one stakeholder. He is much nasty and overacted person. But I tought he is untouchable. The most shocking story ever.
More than half of me greatful for that (sorry). He used to use me to do this and that and treat me as his team member while I am the same level with him. I rejected him many times and my boss knew about it. But we all think, he is untouchable. So I kept my anger for myself. And tried not to raise any conflict.
Another part of me feel sorry for him as he has family. That's it. Hope he learn something from it.
I didn't ask what they two going to do. I can only see something wrong in my boss eyes. I just let it go. On the way to head office, my boss called me and aske to replace him on the meeting with consultant.
At 15.00, heard a news. My coworker is fired. I don't know what happened. I just shocked. Because my coworker is a brother of one stakeholder. He is much nasty and overacted person. But I tought he is untouchable. The most shocking story ever.
More than half of me greatful for that (sorry). He used to use me to do this and that and treat me as his team member while I am the same level with him. I rejected him many times and my boss knew about it. But we all think, he is untouchable. So I kept my anger for myself. And tried not to raise any conflict.
Another part of me feel sorry for him as he has family. That's it. Hope he learn something from it.
Rabu, 10 September 2008
Membatasi diri atau membatasi orang lain?
I've been wondering. Kenapa banyak tempat ditutup selama puasa. Tempat pijat, tempat reflexy, tempat hiburan malam seperti club, bahkan tempat meletakkan minuman beralkohol di circle k juga ditutup kertas kaca depan nya.
Ga boleh clubbing, kan bulan puasa. Then, apakah clubbing hanya di haramkan selama bulan puasa. Kalo clubbing bikin dosa, harusnya mau bulan puasa atau bukan bulan puasa juga tetep dosa dong. Yang paling mengganggu adalah tempat reflexy. I need that setelah seminggu beraktifitas. Apa yang salah melakukan reflexy kaki (dan tangan). Sebagian komentar mengatakan akan menyebabkan birahi, karena di pegang2. Halah. Masa sih saya mau berbirahian dengan pemijat reflexy.
Penjualan minuman beralkohol yang lemari pendinginnya ditutup dengan kertas agar tidak terlihat. Apakah melihat minuman beralkohol lalu artinya menjadi berdosa. Ok deh, tidak usah bicara dosa. Tuhan yang akan menilai. Tetapi apakah melihat minuman beralkohol akan membatalkan puasa seseorang?
Hadooooowww. Membingungkan deh. Batasi diri sendiri, control diri sendiri. Kenapa harus membatasi orang lain? Justru keteguhan seseorang akan tercermin disini. Meracau ga jelas, tapi saya hanya ingin menyampaikannya.
Ga boleh clubbing, kan bulan puasa. Then, apakah clubbing hanya di haramkan selama bulan puasa. Kalo clubbing bikin dosa, harusnya mau bulan puasa atau bukan bulan puasa juga tetep dosa dong. Yang paling mengganggu adalah tempat reflexy. I need that setelah seminggu beraktifitas. Apa yang salah melakukan reflexy kaki (dan tangan). Sebagian komentar mengatakan akan menyebabkan birahi, karena di pegang2. Halah. Masa sih saya mau berbirahian dengan pemijat reflexy.
Penjualan minuman beralkohol yang lemari pendinginnya ditutup dengan kertas agar tidak terlihat. Apakah melihat minuman beralkohol lalu artinya menjadi berdosa. Ok deh, tidak usah bicara dosa. Tuhan yang akan menilai. Tetapi apakah melihat minuman beralkohol akan membatalkan puasa seseorang?
Hadooooowww. Membingungkan deh. Batasi diri sendiri, control diri sendiri. Kenapa harus membatasi orang lain? Justru keteguhan seseorang akan tercermin disini. Meracau ga jelas, tapi saya hanya ingin menyampaikannya.
Do people change?
Seorang sahabat, yang tadinya menjadi belahan jiwa, ternyata berubah dan pergi kearah yang lain. Proses perubahannya tidak cepat. Mungkin hampir setahun kini. Tapi ya, dia berubah.
Saya berusaha untuk memahami perubahannya. Toch saya pun mungkin berubah dimatanya. I've been putting all my best to deal with him. Saya berusaha mengubah cara pandang saya, agar apa yang saya hadapi dapat saya cerna dan akhirnya dapat saya terima menyatu dengan diri dan jiwa saya.
Saya bukan orang suci. Saya penganut paham hidup bebas terbatas dan bertanggung jawab. Saya pernah merokok, saya pernah minum semua jenis minuman beralkohol. Tapi menyentuh psikotropika is a big no no buat saya. Sekitar awal tahun yang lalu, sahabat saya sudah mulai menyentuh happy pills tersebut. Menurutnya happy pills lebih baik dari beers karena dia menerima efeknya dengan baik. Beers (dan alcohol lain) hanya membuat seluruh tubuh nya merah dan dia akan merasa kepalanya diganduli konde segede gaban. Bahkan sahabat saya ini bilang, suatu hari nanti dia akan bikin saya setuju dengan cara kerja happy pills ini dan menyukainya. Saya hanya memandang matanya. Jengkel, tapi saya tidak mampu mempengaruhi pikirannya.
Seorang relative menyampaikan, agar saya memperingatkan sahabat saya karena maraknya pembersihan pengguna psikotropika. Dengan perasaan yang penuh ketakutan, bahkan saya sempet menitikkan air mata meminta dia untuk berhenti dari semua ini. Jawaban yang saya dapatkan : I can take care of my self. Saya seperti di tampar. Tapi membuat saya berpikir. Mungkin saya terlalu memperhatikannya while he doesn't need it.
Hal buruk mulai mewarnai hari2 sahabat saya. Saya masih disana berusaha melindunginya. Banyak hal memang mempengaruhi diri saya juga, tapi saya berusaha bertahan, karena saya sangat menyayangi sahabat saya ini. Saya masih ingat betapa dia selalu ada ketika saya jatuh dulu. Saya tidak mungkin meninggalkan dia. Ketika saya akhirnya sakit dan dirawat berminggu2, tidak sekalipun dia hadir, itupun tidak melunturkan sayang saya padanya, karena selalu saya bandingkan dengan pengorbanannya ketika saya jatuh dulu.
Beberapa teman dekat sempat mempertanyakan perubahan diri sahabat saya. Ouch. Ternyata mereka juga noticed. Mereka mulai berspekulasi penyebabnya. Saya tidak berani menyampaikan pandangan saya, karena akan terdengar terlalu subjective. Time will tell.
Tetapi, saya hanya manusia biasa yang penuh dengan keterbatasan. Saya tidak tau sampai kapan saya bisa bertahan menjaga dia. Selama satu minggu berada berjauhan dengannya, saya merasa aura buruk menjauh dari saya. Apakah ini benar adanya atau hanya perasaan saya? Tapi saya telah memutuskan, saya tidak mau membuang waktu saya untuk sesuatu yang mencelakakan hidup saya. Jika dia ingin berjalan bersama saya, saya akan menemaninya. Tetapi jika dia memilih jalan lain, ini adalah pilihan hidupnya. Saya yakin, dia bisa menjaga dirinya.
Saya berusaha untuk memahami perubahannya. Toch saya pun mungkin berubah dimatanya. I've been putting all my best to deal with him. Saya berusaha mengubah cara pandang saya, agar apa yang saya hadapi dapat saya cerna dan akhirnya dapat saya terima menyatu dengan diri dan jiwa saya.
Saya bukan orang suci. Saya penganut paham hidup bebas terbatas dan bertanggung jawab. Saya pernah merokok, saya pernah minum semua jenis minuman beralkohol. Tapi menyentuh psikotropika is a big no no buat saya. Sekitar awal tahun yang lalu, sahabat saya sudah mulai menyentuh happy pills tersebut. Menurutnya happy pills lebih baik dari beers karena dia menerima efeknya dengan baik. Beers (dan alcohol lain) hanya membuat seluruh tubuh nya merah dan dia akan merasa kepalanya diganduli konde segede gaban. Bahkan sahabat saya ini bilang, suatu hari nanti dia akan bikin saya setuju dengan cara kerja happy pills ini dan menyukainya. Saya hanya memandang matanya. Jengkel, tapi saya tidak mampu mempengaruhi pikirannya.
Seorang relative menyampaikan, agar saya memperingatkan sahabat saya karena maraknya pembersihan pengguna psikotropika. Dengan perasaan yang penuh ketakutan, bahkan saya sempet menitikkan air mata meminta dia untuk berhenti dari semua ini. Jawaban yang saya dapatkan : I can take care of my self. Saya seperti di tampar. Tapi membuat saya berpikir. Mungkin saya terlalu memperhatikannya while he doesn't need it.
Hal buruk mulai mewarnai hari2 sahabat saya. Saya masih disana berusaha melindunginya. Banyak hal memang mempengaruhi diri saya juga, tapi saya berusaha bertahan, karena saya sangat menyayangi sahabat saya ini. Saya masih ingat betapa dia selalu ada ketika saya jatuh dulu. Saya tidak mungkin meninggalkan dia. Ketika saya akhirnya sakit dan dirawat berminggu2, tidak sekalipun dia hadir, itupun tidak melunturkan sayang saya padanya, karena selalu saya bandingkan dengan pengorbanannya ketika saya jatuh dulu.
Beberapa teman dekat sempat mempertanyakan perubahan diri sahabat saya. Ouch. Ternyata mereka juga noticed. Mereka mulai berspekulasi penyebabnya. Saya tidak berani menyampaikan pandangan saya, karena akan terdengar terlalu subjective. Time will tell.
Tetapi, saya hanya manusia biasa yang penuh dengan keterbatasan. Saya tidak tau sampai kapan saya bisa bertahan menjaga dia. Selama satu minggu berada berjauhan dengannya, saya merasa aura buruk menjauh dari saya. Apakah ini benar adanya atau hanya perasaan saya? Tapi saya telah memutuskan, saya tidak mau membuang waktu saya untuk sesuatu yang mencelakakan hidup saya. Jika dia ingin berjalan bersama saya, saya akan menemaninya. Tetapi jika dia memilih jalan lain, ini adalah pilihan hidupnya. Saya yakin, dia bisa menjaga dirinya.
Minggu, 07 September 2008
Kembali ke selera asal
Debske, a good friend of mine bilang "yah akuilah kalo lo tuh emang senengnya itu....dari dulu kaleeeee....nurani bou!!..hahahaaa".
Petualangan saya mengenal laki2 diawali dengan hubungan saya dengan lelaki Inggris, kakaknya teman saya, mereka tinggal tepat di cluster rumah yang sama dengan rumah orang tua saya. Kami hanya bertemu disaat summer break, xmas holiday, spring break. Itu terjadi bertahun2 sampai akhirnya papa mereka di pindahkan ke Qatar dan lelaki itu tidak pernah lagi ke Indonesia dan hubungan kami hanya berlanjut melalui email. It was million years ago.
Lalu saya berkenalan dengan lelaki Belanda, yang ternyata hanya a fling dan seorang lelaki Inggris yang juga hanya a fling. Kemudian lelaki Belanda lain datang. We had serious relationship for about 2 years sampai akhirnya kita berpisah.
Perjalanan berlanjut, dan saya termehek2 dengan seorang lelaki Indonesia keturunan China. Seorang teman di uni pernah berujar "ya ampun, sekali nya lo dapet yang lokal, tetep aja ga pure lokal".
Menjalin hubungan dengan lelaki ini selama 5 tahun dan akhirnya saya harus merelakannya untuk orang lain. Setelah itu ada beberapa lelaki lokal (keturunan China) yang sempet mengusik hari2 saya. Setelah lelah dengan segala argumen, akhirnya saya kembali terpaut pada laki2 ehm, bule.
Debske benar, ini sudah nurani. Dan saya merasa memang lebih cocok dengan lelaki bule. It has nothing to do dengan the way he looks. Tapi in term of the way he thinks dan the way dia bisa menerima saya.
Saya adalah wanita 'independent' yang selalu ingin traveling karena merasa melihat dunia adalah cara belajar yang paling sesuai buat saya, saya menyukai diskusi berjam2 lamanya dengan berbagai topic dari agama sampai bumbu dapur, dari masalah gender sampai politic, dari masalah kelaparan, kekurangan pangan dan pembantaian massal, tapi saya juga wanita yang ingin disayang dan dimanja karena saya sangat suka memanjakan pasangan saya. Saya meng apresiasi keterbukaan dan respect. A simple hello dari nya disaat saya sedang sibuk dengan rutinitas dan pekerjaan kantor sangat menyenangkan. Atau ketika saya bertemu orang2 baru dari lingkungannya, dan cara dia memperkenalkan saya kepada teman2nya, atau penghargaan yang diberikannya hanya karena saya memijit keningnya ketika dia lelah. Saya tidak akan pernah menunggu dia meminta, tapi saya tahu betul kapan dia merasa senang jika saya rub punggungnya. Seperti dia tau saya senang sekali dipeluk dan saya senang sekali di cium di pelipis mata saya tanpa perlu saya memintanya.
Dia memberi banyak keberanian bagi saya. Walapun saya yang mengajarkan keberanian buat dia. Terutama untuk tetap menjadi diri sendiri, menjadi mandiri, menjadi orang yang terus mau belajar. Dan yang terpenting, mengajarkan saya tetap respect dengan orang tua saya walaupun kami berbeda. Dia mengajarkan saya tentang pengorbanan. Dia membuat saya merunduk sedikit, karena saya sangat gengsian selama ini.
Dengan nya, saya ber partner, we discuss and we decide.
"Iya Debs, gw mengakui nya ;p"
Petualangan saya mengenal laki2 diawali dengan hubungan saya dengan lelaki Inggris, kakaknya teman saya, mereka tinggal tepat di cluster rumah yang sama dengan rumah orang tua saya. Kami hanya bertemu disaat summer break, xmas holiday, spring break. Itu terjadi bertahun2 sampai akhirnya papa mereka di pindahkan ke Qatar dan lelaki itu tidak pernah lagi ke Indonesia dan hubungan kami hanya berlanjut melalui email. It was million years ago.
Lalu saya berkenalan dengan lelaki Belanda, yang ternyata hanya a fling dan seorang lelaki Inggris yang juga hanya a fling. Kemudian lelaki Belanda lain datang. We had serious relationship for about 2 years sampai akhirnya kita berpisah.
Perjalanan berlanjut, dan saya termehek2 dengan seorang lelaki Indonesia keturunan China. Seorang teman di uni pernah berujar "ya ampun, sekali nya lo dapet yang lokal, tetep aja ga pure lokal".
Menjalin hubungan dengan lelaki ini selama 5 tahun dan akhirnya saya harus merelakannya untuk orang lain. Setelah itu ada beberapa lelaki lokal (keturunan China) yang sempet mengusik hari2 saya. Setelah lelah dengan segala argumen, akhirnya saya kembali terpaut pada laki2 ehm, bule.
Debske benar, ini sudah nurani. Dan saya merasa memang lebih cocok dengan lelaki bule. It has nothing to do dengan the way he looks. Tapi in term of the way he thinks dan the way dia bisa menerima saya.
Saya adalah wanita 'independent' yang selalu ingin traveling karena merasa melihat dunia adalah cara belajar yang paling sesuai buat saya, saya menyukai diskusi berjam2 lamanya dengan berbagai topic dari agama sampai bumbu dapur, dari masalah gender sampai politic, dari masalah kelaparan, kekurangan pangan dan pembantaian massal, tapi saya juga wanita yang ingin disayang dan dimanja karena saya sangat suka memanjakan pasangan saya. Saya meng apresiasi keterbukaan dan respect. A simple hello dari nya disaat saya sedang sibuk dengan rutinitas dan pekerjaan kantor sangat menyenangkan. Atau ketika saya bertemu orang2 baru dari lingkungannya, dan cara dia memperkenalkan saya kepada teman2nya, atau penghargaan yang diberikannya hanya karena saya memijit keningnya ketika dia lelah. Saya tidak akan pernah menunggu dia meminta, tapi saya tahu betul kapan dia merasa senang jika saya rub punggungnya. Seperti dia tau saya senang sekali dipeluk dan saya senang sekali di cium di pelipis mata saya tanpa perlu saya memintanya.
Dia memberi banyak keberanian bagi saya. Walapun saya yang mengajarkan keberanian buat dia. Terutama untuk tetap menjadi diri sendiri, menjadi mandiri, menjadi orang yang terus mau belajar. Dan yang terpenting, mengajarkan saya tetap respect dengan orang tua saya walaupun kami berbeda. Dia mengajarkan saya tentang pengorbanan. Dia membuat saya merunduk sedikit, karena saya sangat gengsian selama ini.
Dengan nya, saya ber partner, we discuss and we decide.
"Iya Debs, gw mengakui nya ;p"
Sepatu Lama vs Sepatu Baru
On one fine afternoon, saya bicara dengan seorang teman tentang sepatu lama dan sepatu baru. Ada kalanya kita sangat ingin memakai sepatu baru tapi sepatu lama tidak ingin kita buang walaupun sudah usang. Karena satu saat nanti kita masih ingin memakainya.
Speaking of sepatu, itu cara kita meng asosiasikannya kepada teman2 kita. Saya selama ini mempunyai teman2 yang terbilang sangat dekat. Tapi entah kenapa saya merasa hidup saya monoton. So, I went out, meeting new friends. It is good. Ternyata teman2 baru ini juga sangat menyenangkan. Dan saya pikir mereka bisa menjadi teman baik pula.
Bersama mereka saya seperti hidup kembali. Saya menemukan teman2 yang dengan gampang saya dapat mengutarakan isi pikiran saya dan kita bisa berdiskusi berjam-jam tanpa harus saling membunuh (seperti yang saya lakukan dengan orang yang sangat dekat dengan saya akhir2 ini).
You know, I can just say beer in bottle has different taste to beer in a can from the same brand and they agree about it. Tapi ketika hal ini saya sampakan ke teman2 lama, mereka menganggap saya aneh dan ada2 aja.
Speaking of sepatu, itu cara kita meng asosiasikannya kepada teman2 kita. Saya selama ini mempunyai teman2 yang terbilang sangat dekat. Tapi entah kenapa saya merasa hidup saya monoton. So, I went out, meeting new friends. It is good. Ternyata teman2 baru ini juga sangat menyenangkan. Dan saya pikir mereka bisa menjadi teman baik pula.
Bersama mereka saya seperti hidup kembali. Saya menemukan teman2 yang dengan gampang saya dapat mengutarakan isi pikiran saya dan kita bisa berdiskusi berjam-jam tanpa harus saling membunuh (seperti yang saya lakukan dengan orang yang sangat dekat dengan saya akhir2 ini).
You know, I can just say beer in bottle has different taste to beer in a can from the same brand and they agree about it. Tapi ketika hal ini saya sampakan ke teman2 lama, mereka menganggap saya aneh dan ada2 aja.
Rabu, 03 September 2008
...my heart speaks...
A little bit awkward, I will see the person I haven’t seen for a long time. We’ve been in touch, but only thru email and phone calls.
When I arrived at the hotel, I went to the lobby and ask somebody to take me to the room where he stays. After two knocks, he opened the door. The face I still remember very much, a good smile, my favorite smile, he opened his big arms. Hold me tight. Oh my God, I miss him so.
We spent that morning talking about everything.
Later on that day, we rode motorbike around the island. Sun bathing on the beach and heading back to another beach for sunset and beers. The fact we just found out was we are lazy couple. He told me that I make him lazy. On the other hand, I think he is the one who caused my lazyness, his present around me makes me comfort and want to stay there forever. So, we mostly spent our time in the room on the bed. Well, we went out sometimes for swimming, sunset and beers. And of course we went out for ayam bakar.
On the other day, we went to our friend’s wedding in the church. After finished the holy matrimony supposed we went directly to the wedding party at Ma Joly. But we decided to off a bit to see sunset and to have beers. We had 1, 5 hour for ourselves before we went back to the party.
That night was remarkable. After the party we went back to the hotel and decided to swim. It was cold, but it was nice.
Spending time with him, made me learn about him, about us. We used the time for discussion over a beer or two, while watching sunset. I can say it was perfect. We are looking forward to see each other again. Very soon.
When I arrived at the hotel, I went to the lobby and ask somebody to take me to the room where he stays. After two knocks, he opened the door. The face I still remember very much, a good smile, my favorite smile, he opened his big arms. Hold me tight. Oh my God, I miss him so.
We spent that morning talking about everything.
Later on that day, we rode motorbike around the island. Sun bathing on the beach and heading back to another beach for sunset and beers. The fact we just found out was we are lazy couple. He told me that I make him lazy. On the other hand, I think he is the one who caused my lazyness, his present around me makes me comfort and want to stay there forever. So, we mostly spent our time in the room on the bed. Well, we went out sometimes for swimming, sunset and beers. And of course we went out for ayam bakar.
On the other day, we went to our friend’s wedding in the church. After finished the holy matrimony supposed we went directly to the wedding party at Ma Joly. But we decided to off a bit to see sunset and to have beers. We had 1, 5 hour for ourselves before we went back to the party.
That night was remarkable. After the party we went back to the hotel and decided to swim. It was cold, but it was nice.
Spending time with him, made me learn about him, about us. We used the time for discussion over a beer or two, while watching sunset. I can say it was perfect. We are looking forward to see each other again. Very soon.
Langganan:
Postingan (Atom)