Jumat, 20 Maret 2009

Di persimpangan jalan

Aku di persimpangan jalan. Sedang menimbang2. Akankah keputusan ini aku ambil, atau aku akan terus menjalani seperti sebelumnya.

Aku pernah melemparkan pertanyaan ini kepada beberapa teman, " Siapa yang akan kamu pilih dari 3 orang yang sedang ada di lingkaran mu saat ini " It has nothing to do dengan memilih pacar. Tetapi siapakah sebenernya temen yang bener2 temen buat kamu? Satu jawaban yang sangat mengena. " Pilihlah orang yang akan merasa kehilangan kamu kalau kamu tidak ada ".

I have several best friends. I treat them as good as possible. I adore hem, I care for them. And what the heck is happening now?

One of three of them is was my best of the best. More than you can imagine. In the name of busiest life, he doesn't contact me anymore. He responded to my call and my text message. But never did the first move.

The other two kept loking for me if I am not there. Try to find me. They miss me if I am not around. If I told them, I have to see mu doctor today, and the next thing they ask me after 1 hour is how is my condition.

Now, here I am, di tikungan, di persimpangan jalan, sedang mencoba melihat kembali, apakah arti pertemanan itu. Ya, aku tidak bis alagi meng considernya sebagai teman baik. Teman? Mungkin, Tapi lebih mungkin acquintance. Hahahaha....

Senin, 09 Maret 2009

High

Those feeling coming back again. So nice.

You know when someone just calling you out of nothing, sometimes only to make sure a little unimportant thing. It flies you away above high.

Jumat, 13 Februari 2009

Random Thought

I spent more than 20 hours working a day. My working environment is fun, yet not healthy. Dark, need a lamp right to my desk. When you walk around the desk line along the curve side of the wall, you will smell ashes. Try to swap it with your fingers. Dirty. Even if you are not a smoker, you'd better start now, otherwise you will become a victim of other's enjoyment.

I love people around me. They are fun. I don't mind working late. I don't mind working until morning comes. But, will I get better healthy environment and better pay? Hope so *crossing my finger*

I arrived home at 3 in the morning. Still so many things to get done. Overwhelmed.

What would I do then? While trying to figure it out, my other mind strucked by another thinking. Mmm, how I miss him. I wish I could just turn back the time to when I was really really busted by my job, and he picked me up at the office, we went out for meal and go massage. I smile. And suddenly I realize that I have to shut that memory down.

I slip into my bed. Setting alarm by my bedside. I still have 2 hours before geting myself back into bustle hustle life. But so hard to shut down my mind. I closed my eyes but I still see a tv screen in my head. My one part of life comes and there's another one.

Suddenly my alarm is ringing. Damn. I had to get up now.

Thinking again. How can I manage my mind and my brain not to think of anything at least for a little while.

Minggu, 18 Januari 2009

Us

After years, we finally surrendered to each other. We are happy about it. We enjoyed every moment. It is so hard to let go each other, even we know, it's only for working. It's hard to wait until next weekend. It's so hard to admit, we are addicted to one another.

Rabu, 24 Desember 2008

Xmas's Eve

I spent of my time at the office, especially this end of year moment. Not like years behind, this year keeps everybody even busier. No one talking about going away for holiday. Even on xmas's eve, I still there, busy with my so called duties. I called my boss on the phone, updated her all day progress, reminded her that I am taking my two days off, and wishing her a merry xmas. I walked around the office wisheng them merry xmas and shutted down my computer.

Thinking what I am going to do tonite...

My brother went to the church with his office mates. A friend called me to have xmas dinner together. I said yes. It was nice evening, with some friends.

I stopped by at my brother apartment, wishing him was there, so I will have a nice family xmas moment. But he is still out with his friends. Staying there, alone, made me sad. I decided to drive again. Has no place to go actually. The road is empty. Most of people must be spending time at home with their family. So I headed home directly.

I lost my heart. Feels so strange. Xmas's eve.

Senin, 22 Desember 2008

Be honest atau what the heck...

Saya pernah mencintai seseorang. Sepenuh hati saya. Walaupun akhirnya kami berpisah, saya tetap menyayanginya. Masih sepenuh hati saya, tapi dalam format yang berbeda.

Ketika saya sakit, dirawat, atau ketika saya berhasil dalam sebuah usaha, saya masih memberitahunya. Begitupun dengan dia. Bahkan ketika dia memutuskan menikahi seseorang dan dia akhirnya mempunyai anak, dia memberitahu saya. Kami dahulu bersahabat dan kami masih menjalaninya sebagai sahabat.

Tidak ada perjanjian tertulis untuk saling mengupdate. Hal ini berjalan saja secara natural.

Sahabat saya yang lain bernasib kurang baik menurut saya. Walaupun dia bersikeras kalau dia baik2 saja. Hubungan percintaannya bagai tiada putus keriaan. Party bersama, traveling bersama, bahkan memutuskan untuk tinggal bersama. Dilakukannya hanya dalam hitungan 3 bulan sejak mengenalnya. Lalu conflict bermunculan. Sahabat saya sampai berurai air mata menghadapi pertengkaran itu. Lalu setelah mereka berdamai, mereka masih melakukan traveling lagi selama 2 minggu. Betapa indah hubungan itu.

Saya termasuk orang yang menyatakan dengan jujur bahwa saya tidak suka pacar sahabat saya. Tidak bisa saya jelaskan karena apa. Hanya saya tahu ada yang salah dengan orang ini. Tapi sebagai sahabat yang baik, saya tidak ingin merusak keindahan hubungan mereka. Saya hanya bertanggungjawab menjaga dan mengamati perkembangannya. Karena satu saat nanti saya merasa sahabat saya akan memerlukan orang untuk menolongnya.

Sekitar 7 bulan setelah usia tinggal bersama mereka, akhirnya mereka bubar. Terlalu banyak ketidak cocokan diantara mereka kata sahabat saya. Tepat 2 minggu kemudian, mantan pacar sahabat saya menikah dengan orang lain dan merayakannya dengan gemerlap di gedung mewah.

Saya kaget bukan kepalang. Mana ada sebuah resepsi pernikahan dapat disiapkan dalam waktu dua minggu. Kasihan sahabat saya. Bahkan setelah pernikahan, mereka masih bertemu dan mantan pacarnya tidak memberitahukan sepatah katapun tentang pernikahannya.

Entah apa nama dari bentuk penyimpanan informasi ini. Entah apa tujuannya. Entah kenapa pula dia memacari sahabat saya dan saat yang bersamaan sedang menyiapkan pernikahan. Entah apa yang dicarinya. Entah kah hanya sex addict atau love junkie seperti yang disebut2nya. Love supposed to be coming with respect and care. Not deceitful. Semoga dia tidak menyakiti pasangannya yang baru dinikahinya. Semoga dia berhenti menambah luka hati orang tuanya. Atau dia akan menuai karmanya...

Sabtu, 20 Desember 2008

Malaikat yang memberi, tanpa mengharap kembali

Pernah denger quotation seperti ini "Treat People the Way You'd Like People to Treat You" ? Very popular I bet. Bertahun2 saya percaya dengan konsep tersebut. Saya memperlakukan orang lain dengan baik, sebagaimana saya ingin diperlakukan oleh orang lain. Jika ada teman yang susah, saya sebisa mungkin menolong, karena siapa tau kalau saya kesusahan nanti, saya butuh pertolongan nya.

Ibu saya pun terus menerus mem brain-washed saya dengan kalimat2 serupa, "pergilah bezook temen kamu yang sakit, kalo kamu sakit nanti, kamu pasti akan senang kalo teman kamu datang". Ibu saya pun akan menyiapkan segala macam untuk saya bawakan untuk teman saya yang sakit itu.

Kenyataan tidak selamanya seperti scenario yang kita ciptakan. Disaat saya terkapar sakit, apakah ada yang datang membezook ? Jawabannya : tidak satupun dari teman2 saya yang saya anggap dekat. Justru hanya teman2 yang saya anggap 'biasa' yang datang berkali2 dengan susah payah menjangkau area rumah saya yang termasuk dipinggiran kota. Susah dijangkau karena teman saya yang 'biasa' itu hanya memiliki motor saja. Teman 'biasa' saya yang lainnya menunggui saya menjalani berbagai proses menyakitkan di RS.

Lalu kemana kah teman2 dekat saya? Entah ada keriaan apa, serentak sontak mereka semua ada sesuatu yang lebih penting. Ada pekerjaan yang tidak bisa ditunda, ada acara keluarga yang sangat mendesak. Project yang tiada kunjung usai. Ya, sampai hari ini saya sakit sudah mencapai hitungan 14 bulan. Sepanjang itukah kesibukan mereka? Maaf saya jadi sinis.

Ibu saya berkata, "Disini kamu belajar siapa sebenarnya temanmu".

Sewaktu seorang teman sakit, saya selalu meluangkan waktu sepulang kerja untuk menghampirinya. Berusaha membuatnya nyaman, menjaganya. Padahal saat itu sayapun sedang tidak terlalu sehat. Tetapi compare to dia, saya masih lebih kuat. Bagi saya, sesedikit apapun waktu yang ada bisa saya siasati. Yang penting saya punya niat baik. Menolong sesama tanpa diminta.

Berhubung saya manusia biasa, saya sangat mengharapkan perbuatan baik sebagai balasan kebaikan saya. Saya bukan malaikat, yang memberi tanpa mengharap kembali.