Rabu, 16 Juli 2008

How I really want this...


Not much to say. Just want this so much. I will have it with large coke this weekend.


Show People You Care

I heard a lot of words. People said they care about me. Do I believe them? For me seeing is believing. When one said, "I really want to be with you, because I do care about you" The fact is he never showed up, while he is only less than 15 km away. He always has time for other, but not for "the one he cares".

Ways to Show People You Care :

1. Notice them.
2. Smile at them.
3. Encourage them to think big.
4. Look them in the eye when you talk to them.
5. Ask them about themselves.
6. Let them tell you how they feel.
7. Listen to their stories.
8. Call them on the phone just to say hi.
9. Answer their questions.
10. Ask them their opinions.
11. Give them your undivided attention.
12. Believe what they say.
13. Tell them what you like about them.
14. Delight in their discoveries.
15. Listen to their favorite music with them.
16. Tolerate their interruptions.
17. Suggest better behaviors when they act up or act out.
18. Show up at their games, concerts, and special events.
19. Tell them how much you like being with them.
20. Tell them about yourself.
21. Help them take a stand, then stand with them.
22. Ask them to help you with something.
23. Keep the promises you make to them.
24. Tell them how proud you are of them.
25. Send them a letter, postcard, or e-mail.
26. Introduce them to your friends and family.
27. Make time to be with them.
28. Be excited when you see them.
29. Notice when they grow.
30. Remember their birthdays.
31. Believe in them.
32. Meet their friends and family.
33. Include them in conversations.
34. Laugh at their jokes.
35. Do things together.
36. Respect them.
37. Find a common interest.
38. Do what they like to do.
39. Applaud their success.
40. Contribute to their collections.
41. Read aloud together.
42. Accept them as they are.
43. Share a meal together.
44. Go places together.
45. Build something together.
46. Make decisions together.
47. Help them learn something new.
48. Be honest with them.
49. Encourage them to help others.
50. Let them make mistakes.
51. Admit when you make a mistake.
52. Be nice to them.
53. Act you care as you said you care.

Kamis, 14 Februari 2008

Aku akan baik-baik saja

Terkadang medical treatment yang kujalani membuatku hampir menyerah. Benar2 menguras seluruh energy ku. Rontoknya rambut bukan masalah besar untukku. Menjadi botak sih aku bisa menghadapinya. Tetapi rasa mual yang tidak ada tandingannya. Muntah yang tiada hentinya. Sampai seluruh isi perut habis. Perut kram. Ga bisa mengangkat tubuhku sendiri untuk beranjak dari suatu tempat ke tempat lain. Benar2 menyiksa. Apalagi berada di negeri orang. Jauh dari keluarga.
Tapi aku tidak ingin menyerah. aku harus tetap kuat. Aku harus sembuh. Aku harus hidup. Lebih lama lagi. Masih banyak hal yang ingin aku lakukan. Aku masih ingin mengunjungi Moscow. Masih ingin pergi ke Hawaii. Ingin melakukan perjalanan melintasi Eropa. Lebih dari itu semua, aku belum sempat melintasi semua wilayah di Indonesia Timur.
Jadi, aku harus sembuh. Pagi ini aku akan pergi ke salon untuk menata rambutku. Aku ingin tetap terlihat cantik. Biaya untuk menggunting rambut disini mahal sekali. Tapi tidak mengapa. Sesekali menyenangkan diri sendiri. Aku layak mendapatkannya setelah semua yang aku lalui.
Dengan menumpang bus aku menuju pusat kota. Lalu turun di perhentian di depan tempat makan. Aku memutuskan untuk masuk dulu. Masih terlalu pagi. Aku putuskan untuk memesan secangkir kopi. Aku membaca buku yang kubawa. Buku yang dikirim temanku untuk menemani hari2 ku di rumah. Menarik sekali. tentang beberapa jiwa yang hidup di dalam satu tubuh.
Aku terkejut ketika cahaya matahari membuatku silau. Aah, sudah lebih dari 1 jam ternyata aku disini. Saatnya beranjak ke salon. Aku keluar dari coffeeshop dan melangkahkan kakiku dengan ringan ke tempat penata rambut.
Sergio, stylist yang ku kenal menyambutku. Dia bawel sekali, bertanya ini dan itu. Tapi itulah Sergio. Seorang yang sangat menyenangkan. Lalu dengan sigapnya dia menata rambutku yang sudah semakin tipis.
Setelah selesai, aku pun terkagum2 dengan hasilnya. Sergio langsung mengambil camera polaroidnya dan menjepret nya. Photonya aku bawa pulang. Tidak lupa memberikan tip buat Sergio. Dari salon aku tidak langsung pulang. Aku pergi e toko buku. melihat - lihat saja. Siapa tahu ada buku menarik lagi.
Aku selalu tertarik membaca buku2 advertising. Aku sudah membelinya beberapa. Philosophy nya yang bagus. Sebenarnya ilmunya bisa diterapkan dalam semua bidang.
Aku mulai kelelahan. Saatnya pulang. Kembali dengan bus. Aku tiba di dekat rumah bersamaan dengan Niklas tiba disana. Kamipun berjalan bersama menuju rumah. Dimitri ternyata ada di rumah. Dia sudah menyiapkan makan malam untuk kita semua.
Setelah menikmati makan malam, kamipun duduk2 santai sambil minum kopi dan tentu saja, bahasan kami kembali ke buku yang sedang aku baca. menjelang tengah malam, aku memutuskan masuk ke kamar. Dimitri ikut dengan ku. Menjatuhkan tubuhku kedalam tempat tidur dengan sprei putih dan halus ini benar2 suatu kenikmatan tersendiri. Dimitri berbaring disampingku. Dimitri selalu berdoa bersamaku sebelum aku tidur. Dimitri bilang kalau semua akan baik2 saja. Kalimat itu terus dibisikkannya ketelinga ku sampai aku tertidur lelap.

Senin, 14 Januari 2008

The New Me

Melirik jam ditangan, sudah masuk tahun baru. Ini malam tahun baru yang paling sepi sejak 10 tahun terakhir. Niklas dan Dimitri pergi bermalam tahun baru di kota, well hanya bar kecil sebenarnya. Tapi aku terlalu lemah untuk ikut dengan mereka. Dan akupun tidak ingin menahan mereka dari bersenang-senang. Telepon berdering. Dimitri dan Niklas berebut berbicara denganku, mengucapkan selamat tahun baru.
Kondisi fisikku kian melemah. Sejak dokter memvonis ku terkena cancer stadium 2B, aku merasa semakin hari semakin menyebalkan. Aku berusaha menghadapinya, tapi tubuhku seperti kehilangan energy. Tidak banyak yang bisa kau lakukan selain jalan-jalan disekitar rumah. Setiap pagi Dimitri dan Niklas bergantian menemaniku berjalan-jalan. Agar otot-ototku tidak kaku. Aku kasihan sama mereka, dua lelaki yang paling aku sayangi. Mereka pasti lelah sekali menghadapi ini semua.
Aah, sudahlah. Cukup sudah berkeluh kesah. Saatnya bangkit. Ini tahun baru. Aku ingin sembuh. Aku ingin bisa membahagiakan lebih banyak orang lagi. Aku masih ingin melintasi benua. Aku ingin traveling lebih jauh lagi. Dan ya, aku ingin menikah.
Biaya medical disini mahal sekali, untung saja asuransi mengcovernya. Tahun baru ini aku akan bangkit. Aku ingin hidup seperti orang normal lainnya. Aku tidak ingin menyerah pada penyakit yang menggerogoti tubuhku. Malam ini, aku telah menyiapkan pakain terbaikku yang akan aku gunakan besok pagi. Aku ingin berjalan pagi, seorang diri. Berjalan lebih jauh dari biasanya. Aku tahu, besok pagi, semua orang tentunya masih terlelap dan memanjangkan waktu tidur mereka setelah party malam ini. Aku ingin menjadi orang pertama yang menyapa pagi. Aku memanaskan susu, meminumnya. Dan segera masuk ke tempat tidur. Baru kali ini aku merasa benar-benar senang pergi tidur.
Alarm berdering sayup-sayup di telingaku. Aku terjaga. Selamat pagi. Aku mengucapkan selamat pagi untuk diriku sendiri. Lalu akupun bersiap-seiap melanjutkan rencana ku. Sebelum keluar rumah, aku sempat melongokok ke kamar Niklas. Niklas masih terlelap. Dimitri tidur di sofa. Kelihatannya dia tidak ingin memangunkanku semalem. Aku membiarkan mereka. Segera keluar. Udara pertama yang kuhirup begitu segar. Masuk ke seluruh relung jiwa ku. Serasa aku mendapat energy baru. Ya semoga saja, ini awal yang baik untuk ku.

Senin, 24 Desember 2007

Xmas Eve

Gereja serasa tidak seramai biasanya. Aku sempet bersalaman dengan beberapa teman. Lalu aku bergegas kembali kerumah. Aku kedinginan sekali. Niklas masih di gereja, ada dinner bersama.

Setiba di rumah aku langsung masuk ke dalam selimut. Tidak biasanya aku seperti ini. Aku rasa malaria ku kambuh. Aku menggigil tidak karuan. Berusaha mencari obat tapi ternyata aku sudah tidak punya lagi. Aku paksakan diriku untuk membuat teh panas. Meneguknya dengan cepat. Lidah ku terbakar, tapi badan ku sedikit lebih baik. Akhirnya aku berusaha memejam kan mata kembali ke tempat tidur.

Kalau lagi sakit begini, aku berharap Dimitri ada disini. Dia yang paling tau bagaimana menghandle hal ini. Tapi kabarpun tidak ada. Aku tidak tau dia ada di belahan negeri mana saat ini. Mayaku mulai memejam. Badanku perlahan2 mulai hangat. Aku pun terlelap.

Aku setengah terbangun sambil mengusap airmata ku. Aku bermimpi Dimitri. Aku kangen sekali. Tapi bagaimana bisa menghuunginya. Aku bangun dari ranjangku. Melihat jam dipergelangan tanganku, pukul 02.14 dini hari. Sayup2 aku mendengar ada orang bercakap2 di ruang depan. Niklas. Tapi dengan siapa? Aku melangkah ke depan. Sedikit pusing. Dan waaaaa...aku langsung lari dan memeluk nya. Dimitri disana. Oh Tuhan, aku kangen sekali. Dimitri langsung memegang wajah dan leherku. Ya, aku tau, badan ku panas sekali. Tapi aku bahagia sekali. Air mata ku kembali mengalir deras dalam tawa ku. Niklas tertawa2. Akhirnya doa ku terkabul. Aku sangat ingin Dimitri berada diantara kami saat Xmas datang. Miracle itu ada. Sepanjang malam sampai pagi kami hanya duduk2 mengobrol. Aku senang sekali duduk disamping Dimitri dan tangannya tidak lepas merangkulku.

Sambil memejamkan mata, aku bersukur, Terima kasih Tuhan, untuk berkah indah di hari Natal ini. Merry Xmas Niklas, Merry Xmas Dimitri.

Selasa, 27 November 2007

Amsterdam Dalam Kenangan

Masih tidak dapat kupercaya. Tapi mungkin juga aku yang terlalu jauh berasumsi. Nat hanya jatuh dari tangga. Itu yang membuat memar2 disekujur tubuhnya. Lalu ada apa dengan pesan di email yang kuterima? Lalu suaminya sekarang. Selama aku dua hari dirumahnya, tidak sekalipun aku mendengar telpon dari suaminya atau Nat menelpon suaminya.

Ahh, sudah lah. Aku sudah berusaha untuk menolong Nat, tapi Nat tidak membutuhkannya. Dia bilang dia akan baik baik saja. Hanya terlalu lelah dengan pekerjaannya, lalu jatuh terjerembab. Dan tentu saja dia ingin sekali kembali ke Indonesia saja. Tapi menurutnya itu hanya keinginan sesaat. Nat mencintai suami dan tempat tinggalnya.

Hari ini aku harus kembali. Kembali ke Jonkoping. Berat hati meninggalkan Nat seorang diri, tetapi hidupku pun harus terus berlanjut. Sepanjang perjalanan aku hanya tertidur.

Niklas menjemputku di bus station. Niklas terlihat ceria sekali. Tidak henti-hentinya menceritakan pertandingan bola yang diikutinya weekend kemarin. Walaupun hasil akhirnya team Niklas kalah, tapi Niklas seneng sekali. Menurut Niklas, bukan hasil akhir dari pertandingan yang penting, tetapi bagaimana pertandingan itu berlangsung lah yang paling penting. Sangat positif. Aku suka itu.

Niklas juga mengabarkan kabar lain. Kabar baik lain yang kuterima adalah Dimitri menelpon ke rumah. Walaupun itu berarti aku tidak sempat berbicara dengannya, at least aku tau kalau dia baik-baik saja. Saat menelpon, Dimitri sedang berada di Amsterdam.

Amsterdam. Kota tua yang menyenangkan. Aku pernah memutuskan untuk menetap di Amsterdam beberapa tahun yang lampau. Tapi kacaunya hubungan ku dengan seseorang telah membatalkan niatku. Seketika lamunanku kembali ke masa lalu. Pekerjaanku sebagai exportir furniture telah mempertemukanku dengan Bastiaan. Lelaki yang akhirnya memintaku untuk menikahinya. Kami telah memiliki sebuah apartement kecil di Antonistraat. Telah mengisi perlengkapan rumah tangga didalamnya. Dengan susah payah menaikkan sofa jati ke lantai empat dengan mengikat tali melalui jendela. Memecahkan satu coffee table. Mengurus surat ini dan itu di city hall. Melihat lihat berbagai design untuk baju pengantin, memilih restoran, mendesign undangan. Aku bahkan berhenti bekerja untuk mengurus itu semua. Saat-saat yang menyenangkan. Tapi semua harus berakhir dengan adanya orang lain yang masuk ke dalam kehidupan kami. Sudahlah, aku berusaha mengibas jauh kenangan buruk itu. Well, suatu hari nanti aku ingin kembali ke Amsterdam, hanya untuk menikmati suasana nya. Berjalan-jalan diantara bangunan-bangunan tua yang mengagumkan. Menikmati sore hanya dengan duduk santai di cafe pinggir jalan. Ya mungkin aku masih bisa pergi ke toko roti favoritku di ujung Antonistraat. Andai saja aku dapat melakukan ini dengan Dimitri...

Begitu tiba di rumah aku langsung membuka komputerku. Sudah beberapa hari ini aku tidak mengecek email. Dan wah, dapat banyak sekali email. Dari seorang teman di Indonesia, mengabarkan perjalanan terbarunya ke Baduy. Aku melihat foto-foto yang di attached. Lalu ada email dari B. Doeksen. Deg. Jantungku berhenti berdegup beberapa saat. Aku baru saja membayang-bayangkan Amsterdam, dan kini Bastiaan Doeksen mengirimkan email untukku. Well, kami memang masih keep contact. Tapi tidak secara rutin. Sudah lebih dari satu tahun rasanya kami tidak saling memberi kabar.

Bastiaan hanya menanyakan kabar. Dia memberitahukan bahwa Christmas nanti ingin ke Indonesia, karena ingin merayakannya di Bandung di tempat tantenya. Dia berharap dapat bertemu dengan ku. Too bad. Tidak mungkin.

Aku dan Niklas belum mempunyai rencana apa-apa untuk Christmas nanti. Well, Niklas pernah berujar, mari kita temui Dimitri dimanapun dia berada saat Christmas nanti. Cukup menarik. Semoga saja Christmas nanti Dimitri berada di negara yang belum pernah kudatangi.

Jumat, 23 November 2007

Nat

Setelah berargument dengan ku, akhirnya aku membiarkan Dimitri melakukan pilihannya. Dimitri ingin berkelana mengelilingi Eropa. Sebenarnya bukan aku tidak setuju dengan pilihannya. Aku hanya iri. Karena aku tidak bisa melakukannya. Saat ini aku sudah terikat kontrak kerja di sekolah taman kanak-kanak. Waktu liburku hanya ketika libur sekolah tiba. Itupun masih harus dipotong hari - hari untuk rapat ini dan itu.

Pagi pagi sekali aku sudah siap di dapur, menyiapkan breakfast buat ku dan Niklas. Sejak Dimitri pergi, rumah jadi lebih sepi. Tidak ada yang berargument tentang matahari, tentang dingin, tentang susu, tentang juice dan roti bakar. Aku jadi tersenyum sendiri. Ada saja yang kami bahas, kadang2 sesuatu yang tidak penting. Masih terlalu pagi, aku membuka computer ku. Ada message dari sahabatku, Nat di Norway. Ada apa ya? Bunyi pesan yang sangat aneh. Dia sedang kesusahan, ingin kabur dari semua ini. Aku langsung mengambil telpon dan berusaha menghubunginya. Tidak ada yang menjawab. Aku meninggalkan pesan. Perasaanku semakin tidak enak.

Sejak menikahi lelaki Norway yang sangat dicintainya, Nat memutuskan untuk tinggal di negara dingin dan mahal itu. Sweden juga dingin, tapi tidak semahal di Norway. Yang kutahu dia sangat bahagia dengan suaminya. Sekarang dia sudah mulai bekerja agar tidak terlalu bosan hanya tinggal di rumah. Tapi sekarang aku menatapi baris2 tulisan nya di email "

Tak banyak kata yang dapat ungkapkan perasaanku
Sedih, kesal, kecewa dan marah
Kepada siapa aku harus marah
Tuhan

Kucoba tahan air mata
Semakin keras ku mencoba
Semakin kurasa hangatnya tetesannya di pipiku
Membuang air mata
Hanya ini yang dapat kulakukan
Tak ada orang-orang terdekatku disini
Sendiri kujalani hidup ini
Jauh dari orang-orang yang kucintai
Orang-orang yang tidak menuntut suatu apapun dariku
Orang-orang yang mencintaiku setulus hati
Suatu saat.....Akan kutinggalkan semua iniSuatu saat.....
Akan ku berlari menjauh dari semua ini
Andaikan kudapat memutar kembali waktuAndaikan.....

Sebuah puisi. Aku tahu. Nat tidak biasa menulis sebuah puisi. Ini bener2 dari hatinya. Aku kembali mencoba men dial no telpnya. Tetap tidak ada yang menjawab. Aku hanya bisa berharap Nat baik2 saja.
Aku berharap Dimitri mengirimkan email tentang keberadaannya. Tapi tidak ada satupun email darinya. Aku hanya menebak2 dimana dia sekarang. Aku dan Dimitri bagai sedang memainkan mind game. Dulu aku sering bilang, kalau aku nanti akan pergi traveling seorang diri dan tidak akan mengontak siapapun. Dimitri bilang, itu sama saja aku tidak sayang sama orang2 disekelilingku. Karena mereka pasti worry. Sekarang Dimitri melakukan apa yang ingin kulakukan. Dimitri sering bilang, nanti kamu rasakan sendiri rasanya bagaimana kalau diperlakukan seperti itu. Aaah, he is so right. Aku tidak suka perasaan ini.
Sudah sepuluh hari sejak Dimitri pergi. Aku mulai kangen. Aku mulai tidur dengan bajunya. Mulai senewen. Setiap hari bisa mengecek email berkali2, berharap ada kabar dari nya.
Sampai saat ini pun aku belum menerima kabar dari Nat. Semua hanya tanda tanya. Aku semakin senewen. Aku sempat terpikir untuk pergi ke Norway weekend nanti. Akan menghabiskan banyak biaya, tapi at least aku tahu sesuatu tentang sahabatku. Untuk Dimitri, aku yakin dia bisa menjaga dirinya sendiri. Aku yakin dia akan menghubungi ku kalu dia kenapa2.
Kusampaikan niat ku ke Niklas. Niklas yang mengenal Nat sebaik aku, juga merasa worry. Niklaspun membiarkanku pergi. Akupun mencari ticket untuk ke Tromso.
Jumat sore, kelas telah selesai. Aku buru2 membereskan semua pekerjaanku dan siap2 menuju bus station untuk kemudian menuju airport. Excited dan takut. Perasaan yang aneh. Sudah lama sekali tidak bertemu Nat. Sepanjang perjalanan aku hanya merenung. Mencoba membaca buku, tapi tidak ada satupun yang tertinggal di otakku. Kuputuskan menutupnya saja. Tidur.
Dalam taxi yang membawaku ke rumah Nat, aku sempat berusaha menghubungi mobile phone Nat berkali2. Selalu tidak terjawab. Apakah handsetnya tertinggal, atau hilang, atau apa ya? Aku mencocokkan nomor rumah seperti yang tertulis di namecard nya. Yep. Ini rumahnya. Rumah kecil dengan kayu2 putih. Halaman yang luas. Tirai jendela tertutup. Aku melihat ada anjing kecil berlari di halaman. Tapi segera menghilang ke luar pagar. Aku membunyikan lonceng kecil yang digantung di pintu pagar. Tidak ada yang keluar. Aku mencoba membuka pagarnya. Berhasil. Kulangkahkan kakiku segera menuju pintu utama. Menggedor2 nya beberapa kali. Tidak ada reaksi. Aku mengelilingi rumah nya. Menuju pintu belakang. Hanya ditutupi pintu dengan kasa, sedangkan daun pintu terbuka. Aku melongok kedalam. Gelap. Bagaimana mungkin pintu ini tetap dibiarkan terbuka? Akhir November sangat dingin disini. Aku mndorong pintu kasa. Menyalakan lampu. Berantakan sekali.
"Nat... Nat.." panggilku beberapa kali. Aku masuk terus ke ruang tengah. Aku tidak mampu berkata2. Sahabatku, Nat, terbaring disana. Wajahnya lebam kebiruan, mata putihnya berwarna merah karena pecahnya pembuluh darah. Dia menangis begitu melihatku. Dia memelukku erat sekali. Aku tidak tahu harus memulai pertanyaan dari mana. Kubiarkan dia menangis. Sampai dia tertidur.

Aku mulai membereskan barang2 yang berantakan di rumah Nat. Aku juga sudah menghubungi Niklas kalau aku sudah tiba di Tromso, dan Nat baik2 saja. Aku tidak ingin menceritakan panjang lebar dulu. Akupun belum tahu apa yang terjadi.

Aku menyiapkan makanan untuk Nat. Hanya cream soup dan roti. Itu yang ada di kulkas nya. Rasanya Nat sudah kurus sekali. Aku membangunkan Nat untuk makan. Dia menyuapkan makanann ya dengan susah payah. Ternyata rongga mulutnya pun luka dengan sariawan. Aku tidak bertanya apa2. Kubiarkan Nat menghabiskan makanannya dulu. Sambil pikiranku mulai menerawang dan memikirkan yang tidak2. Aku harus membawa Nat dari sini.