Saya pernah mencintai seseorang. Sepenuh hati saya. Walaupun akhirnya kami berpisah, saya tetap menyayanginya. Masih sepenuh hati saya, tapi dalam format yang berbeda.
Ketika saya sakit, dirawat, atau ketika saya berhasil dalam sebuah usaha, saya masih memberitahunya. Begitupun dengan dia. Bahkan ketika dia memutuskan menikahi seseorang dan dia akhirnya mempunyai anak, dia memberitahu saya. Kami dahulu bersahabat dan kami masih menjalaninya sebagai sahabat.
Tidak ada perjanjian tertulis untuk saling mengupdate. Hal ini berjalan saja secara natural.
Sahabat saya yang lain bernasib kurang baik menurut saya. Walaupun dia bersikeras kalau dia baik2 saja. Hubungan percintaannya bagai tiada putus keriaan. Party bersama, traveling bersama, bahkan memutuskan untuk tinggal bersama. Dilakukannya hanya dalam hitungan 3 bulan sejak mengenalnya. Lalu conflict bermunculan. Sahabat saya sampai berurai air mata menghadapi pertengkaran itu. Lalu setelah mereka berdamai, mereka masih melakukan traveling lagi selama 2 minggu. Betapa indah hubungan itu.
Saya termasuk orang yang menyatakan dengan jujur bahwa saya tidak suka pacar sahabat saya. Tidak bisa saya jelaskan karena apa. Hanya saya tahu ada yang salah dengan orang ini. Tapi sebagai sahabat yang baik, saya tidak ingin merusak keindahan hubungan mereka. Saya hanya bertanggungjawab menjaga dan mengamati perkembangannya. Karena satu saat nanti saya merasa sahabat saya akan memerlukan orang untuk menolongnya.
Sekitar 7 bulan setelah usia tinggal bersama mereka, akhirnya mereka bubar. Terlalu banyak ketidak cocokan diantara mereka kata sahabat saya. Tepat 2 minggu kemudian, mantan pacar sahabat saya menikah dengan orang lain dan merayakannya dengan gemerlap di gedung mewah.
Saya kaget bukan kepalang. Mana ada sebuah resepsi pernikahan dapat disiapkan dalam waktu dua minggu. Kasihan sahabat saya. Bahkan setelah pernikahan, mereka masih bertemu dan mantan pacarnya tidak memberitahukan sepatah katapun tentang pernikahannya.
Entah apa nama dari bentuk penyimpanan informasi ini. Entah apa tujuannya. Entah kenapa pula dia memacari sahabat saya dan saat yang bersamaan sedang menyiapkan pernikahan. Entah apa yang dicarinya. Entah kah hanya sex addict atau love junkie seperti yang disebut2nya. Love supposed to be coming with respect and care. Not deceitful. Semoga dia tidak menyakiti pasangannya yang baru dinikahinya. Semoga dia berhenti menambah luka hati orang tuanya. Atau dia akan menuai karmanya...
Senin, 22 Desember 2008
Sabtu, 20 Desember 2008
Malaikat yang memberi, tanpa mengharap kembali
Pernah denger quotation seperti ini "Treat People the Way You'd Like People to Treat You" ? Very popular I bet. Bertahun2 saya percaya dengan konsep tersebut. Saya memperlakukan orang lain dengan baik, sebagaimana saya ingin diperlakukan oleh orang lain. Jika ada teman yang susah, saya sebisa mungkin menolong, karena siapa tau kalau saya kesusahan nanti, saya butuh pertolongan nya.
Ibu saya pun terus menerus mem brain-washed saya dengan kalimat2 serupa, "pergilah bezook temen kamu yang sakit, kalo kamu sakit nanti, kamu pasti akan senang kalo teman kamu datang". Ibu saya pun akan menyiapkan segala macam untuk saya bawakan untuk teman saya yang sakit itu.
Kenyataan tidak selamanya seperti scenario yang kita ciptakan. Disaat saya terkapar sakit, apakah ada yang datang membezook ? Jawabannya : tidak satupun dari teman2 saya yang saya anggap dekat. Justru hanya teman2 yang saya anggap 'biasa' yang datang berkali2 dengan susah payah menjangkau area rumah saya yang termasuk dipinggiran kota. Susah dijangkau karena teman saya yang 'biasa' itu hanya memiliki motor saja. Teman 'biasa' saya yang lainnya menunggui saya menjalani berbagai proses menyakitkan di RS.
Lalu kemana kah teman2 dekat saya? Entah ada keriaan apa, serentak sontak mereka semua ada sesuatu yang lebih penting. Ada pekerjaan yang tidak bisa ditunda, ada acara keluarga yang sangat mendesak. Project yang tiada kunjung usai. Ya, sampai hari ini saya sakit sudah mencapai hitungan 14 bulan. Sepanjang itukah kesibukan mereka? Maaf saya jadi sinis.
Ibu saya berkata, "Disini kamu belajar siapa sebenarnya temanmu".
Sewaktu seorang teman sakit, saya selalu meluangkan waktu sepulang kerja untuk menghampirinya. Berusaha membuatnya nyaman, menjaganya. Padahal saat itu sayapun sedang tidak terlalu sehat. Tetapi compare to dia, saya masih lebih kuat. Bagi saya, sesedikit apapun waktu yang ada bisa saya siasati. Yang penting saya punya niat baik. Menolong sesama tanpa diminta.
Berhubung saya manusia biasa, saya sangat mengharapkan perbuatan baik sebagai balasan kebaikan saya. Saya bukan malaikat, yang memberi tanpa mengharap kembali.
Ibu saya pun terus menerus mem brain-washed saya dengan kalimat2 serupa, "pergilah bezook temen kamu yang sakit, kalo kamu sakit nanti, kamu pasti akan senang kalo teman kamu datang". Ibu saya pun akan menyiapkan segala macam untuk saya bawakan untuk teman saya yang sakit itu.
Kenyataan tidak selamanya seperti scenario yang kita ciptakan. Disaat saya terkapar sakit, apakah ada yang datang membezook ? Jawabannya : tidak satupun dari teman2 saya yang saya anggap dekat. Justru hanya teman2 yang saya anggap 'biasa' yang datang berkali2 dengan susah payah menjangkau area rumah saya yang termasuk dipinggiran kota. Susah dijangkau karena teman saya yang 'biasa' itu hanya memiliki motor saja. Teman 'biasa' saya yang lainnya menunggui saya menjalani berbagai proses menyakitkan di RS.
Lalu kemana kah teman2 dekat saya? Entah ada keriaan apa, serentak sontak mereka semua ada sesuatu yang lebih penting. Ada pekerjaan yang tidak bisa ditunda, ada acara keluarga yang sangat mendesak. Project yang tiada kunjung usai. Ya, sampai hari ini saya sakit sudah mencapai hitungan 14 bulan. Sepanjang itukah kesibukan mereka? Maaf saya jadi sinis.
Ibu saya berkata, "Disini kamu belajar siapa sebenarnya temanmu".
Sewaktu seorang teman sakit, saya selalu meluangkan waktu sepulang kerja untuk menghampirinya. Berusaha membuatnya nyaman, menjaganya. Padahal saat itu sayapun sedang tidak terlalu sehat. Tetapi compare to dia, saya masih lebih kuat. Bagi saya, sesedikit apapun waktu yang ada bisa saya siasati. Yang penting saya punya niat baik. Menolong sesama tanpa diminta.
Berhubung saya manusia biasa, saya sangat mengharapkan perbuatan baik sebagai balasan kebaikan saya. Saya bukan malaikat, yang memberi tanpa mengharap kembali.
Sabtu, 13 Desember 2008
Confirmed
Sore tadi, saya sedang sangat lelah karena sejak kemaren sampai hari ini saya diare lebih dari 13 kali. Cellphone saya berbunyi. Saya mencoba meraih nya. Dan saya melihat di display namanya. "Hallo? Jadi pergi kawinan di GH?". Saya menjawab dengan, "I don't know, I am not very well rite now. Nanti aku kabarin kalau jadi".
Seemed like nothing happened between us last night. As I get better, then I get ready to go to Dharmais for visiting little friends to celebrate Xmas. Selesai itu, saya pergi ke rumahnya. Dia tidak bisa saya hubungi. Saya tidak mau meng high lite ini. Saya kirimkan sms saja, bahwa saya ke rumahnya. Saya memang punya kunci.
Saya kaget sekali melihat rumahnya yang berantakan. Kotor. Ini bukan dia. Dia adalah orang yang teratur dan bersih. Telapak kaki saya sampai hitam oleh debu lantai. Kepala tempat tidur saya sentuh, kotor juga. Tempat tidur juga belum dirapikan. Saya meletakkan tas saya, lalu saya pergi ke supermarket untuk membeli peralatan bersih2. Sore itu saya putuskan tidak pergi ke kawinan. Saya membersihkan rumah saja. Saya mersa sangat kasihan sama sahabat saya ini. Entahkah dia terlalu sibuk atau apa sampai dia tidak mengurus rumahnya.
Malam itu dia kembali ke rumah untuk menjemput saya karena kami akan pergi keluar dengan teman2 lain. Sepanjang perjalanan dimobil, kami tidak banyak bicara. Saya berusaha relax dan melupakan pertengkaran kemaren. Tapi tetap kaku. Malam itu dia aneh sekali. Saya sempat kesal lagi dibuatnya. Saya coba abaikan saja. Toch saya pun sudah tahu, saya sudah kehilangan sahabat saya dari kemaren.
Walapun sepanjang sore tadi kami berbincang melalui telpon beberapa kali, dan semua seemed nice, tetap saja ketika bertemu muka, dia kembali tidak bersahabat. I was so tired dan mengantuk. He let me drive home alone and went home with other friends. Without asking whether I am alrite or not like he used to say. He spoke nicely to others, but not to me. It confirmed everything then.
No more tomorrow.
Seemed like nothing happened between us last night. As I get better, then I get ready to go to Dharmais for visiting little friends to celebrate Xmas. Selesai itu, saya pergi ke rumahnya. Dia tidak bisa saya hubungi. Saya tidak mau meng high lite ini. Saya kirimkan sms saja, bahwa saya ke rumahnya. Saya memang punya kunci.
Saya kaget sekali melihat rumahnya yang berantakan. Kotor. Ini bukan dia. Dia adalah orang yang teratur dan bersih. Telapak kaki saya sampai hitam oleh debu lantai. Kepala tempat tidur saya sentuh, kotor juga. Tempat tidur juga belum dirapikan. Saya meletakkan tas saya, lalu saya pergi ke supermarket untuk membeli peralatan bersih2. Sore itu saya putuskan tidak pergi ke kawinan. Saya membersihkan rumah saja. Saya mersa sangat kasihan sama sahabat saya ini. Entahkah dia terlalu sibuk atau apa sampai dia tidak mengurus rumahnya.
Malam itu dia kembali ke rumah untuk menjemput saya karena kami akan pergi keluar dengan teman2 lain. Sepanjang perjalanan dimobil, kami tidak banyak bicara. Saya berusaha relax dan melupakan pertengkaran kemaren. Tapi tetap kaku. Malam itu dia aneh sekali. Saya sempat kesal lagi dibuatnya. Saya coba abaikan saja. Toch saya pun sudah tahu, saya sudah kehilangan sahabat saya dari kemaren.
Walapun sepanjang sore tadi kami berbincang melalui telpon beberapa kali, dan semua seemed nice, tetap saja ketika bertemu muka, dia kembali tidak bersahabat. I was so tired dan mengantuk. He let me drive home alone and went home with other friends. Without asking whether I am alrite or not like he used to say. He spoke nicely to others, but not to me. It confirmed everything then.
No more tomorrow.
Jumat, 12 Desember 2008
When convincing might be too late
He sent a text. I didn't reply. I didn't know what to write to him anymore. So put away my cellphone. I went to bed. But I couldn't sleep. I feel so sad.
After about 2 hours later, I received a text "you were called by 08118XXXXXX" and then again and again. Must be there was bad signal in my bedroom. I didn't try to call him back.
Right by midnite, he finally reached me. He tried to convince me why he reacted like yelling and stuff to me. Nothing personal. Yeah, right. I told him my words. He didn't hear me. I don't feel like to argue anymore. So I just said, ya ya ya. He hang up the phone. I got back to my bed.
I don't know whether I cry because I am losing him, or I cry because he treated me bad. I have no idea. About 30 minutes later again I receive text from him, still want to convince me.
I pull my blanket, tuck myself in. I don't feel like to reply his text or call him back. I just want to sleep.
After about 2 hours later, I received a text "you were called by 08118XXXXXX" and then again and again. Must be there was bad signal in my bedroom. I didn't try to call him back.
Right by midnite, he finally reached me. He tried to convince me why he reacted like yelling and stuff to me. Nothing personal. Yeah, right. I told him my words. He didn't hear me. I don't feel like to argue anymore. So I just said, ya ya ya. He hang up the phone. I got back to my bed.
I don't know whether I cry because I am losing him, or I cry because he treated me bad. I have no idea. About 30 minutes later again I receive text from him, still want to convince me.
I pull my blanket, tuck myself in. I don't feel like to reply his text or call him back. I just want to sleep.
Sahabat yang tak lagi bersahabat
I was born dengan multi talenta. The best talent is I read people like I read an open book. Some think it's hanya asumsi saya saja. Yang lain terheran2 dengan pernyataan saya.
Dalam hubungan dengan manusia, selain mengamati object diluar saya, saya pun paham benar situasi diri saya. Walau saya mencoba mengelabui, tapi saya tahu apa yang sedang berlangsung.
Sudah lebih dari satu minggu, sahabat saya merespon dengan tidak bersahabat. Saya tahu pasti ada sesuatu. Tapi saya mencoba mengelabui pikiran saya. Saya melakukan mind manipulation. Saya anggap, itu hanya perasaan saya saja yang sedang membutuhkan banyak perhatian dan dia tidak dapat memberikan karena kesibukannya. Setiap text message, setiap call, setiap misscalled...nada sebal kental sekali hadir dalam respon disana. Kata2 nya selalu berbumbu pedas. Saya mengkonfirmasi perasaan sensitif itu langsung kepada nya. Dia mengatakan itu hanya perasaan saya. Saya pun menyetujui itu sambil berpikir bahwa ini bukan phase sentif saya.
Akan tetapi, hari ini, kata2nya telah membuat air mata saya berderai. Saya sampaikan sekali lagi padanya. Jika ada yang salah dari bahasa saya, mohon saya diberitahu dan dimaafkan, karena nothing I have done to hurt his feeling in purpose. Again dia tidak mengakuinya.
Baiklah, saya sudah mencoba. I have tried darling. But seems you don't want to talk. Ignorance. That's what I can see.
Me re flash back, you told me what way I should take to deal with you. During office hour, you prefer me to call you with ''are you busy?". If no, then we continued the conversation. If yes, then you will call me back.
Cara itu saya gunakan terus. Sampai tiba2 sahabat saya mengatakan, "kalau mau bicara, langsung aja, ga usah pake nanya2 lagi sibuk atau tidak". Disampaikan dengan nada kesal. Karena menurutnya, saya hanya berasumsi dia sedang sibuk. Sayapun mengikuti kembali maunya. Intinya saya menyadari kegagalan bahasa saya, kekacauan cara saya berkomunikasi. Jadi saya setuju dengan cara barunya, karena saya ingin mempunyai komunikasi yang baik dengan sahabat saya.
Hari ini, saya pun langsung memanggilnya melalui YM, langsung tanpa basa basi menanyakan dia lagi sibuk atau tidak. Saya melihat sign di status YM nya. Tidak idle, artinya dia sedang ada di depan computernya. Tapi dia tidak menjawab saya. Begitu panjang message saya. Saya kembali memanipulasi pikiran saya dengan anggapan dia sedang sibuk, dan computernya sedang digunakan oleh orang lain. Ketika waktu berlalu dan saya semakin penasaran, saya menghubunginya melalui telpon,dan dia menjawab bahwa dia sedang main game. Jadi dia tidak sibuk, tapi tidak pula menjawab text saya.
Hari ini, respon sahabat saya untuk kalimat2 saya telah menyakitkan hati saya. Sahabat saya sudah tidak bersahabat lagi terhadap saya. Dan saya tidak tahu ada apa dibalik itu. Bagi saya, come and slap me if I'm wrong. Saya tidak terbiasa dengan cara nada kasar dan marah2.
Mungkin sahabat saya sudah memilih jalan lain yang lebih sesuai baginya, dimana jalan saya sudah tidak sesuai untuknya. Atau mungkin ada sahabat baru untuknya yang lebih cocok dengan nya. So long buddy. Someday, I will still be here, to hold your hand again when you need me.
Dalam hubungan dengan manusia, selain mengamati object diluar saya, saya pun paham benar situasi diri saya. Walau saya mencoba mengelabui, tapi saya tahu apa yang sedang berlangsung.
Sudah lebih dari satu minggu, sahabat saya merespon dengan tidak bersahabat. Saya tahu pasti ada sesuatu. Tapi saya mencoba mengelabui pikiran saya. Saya melakukan mind manipulation. Saya anggap, itu hanya perasaan saya saja yang sedang membutuhkan banyak perhatian dan dia tidak dapat memberikan karena kesibukannya. Setiap text message, setiap call, setiap misscalled...nada sebal kental sekali hadir dalam respon disana. Kata2 nya selalu berbumbu pedas. Saya mengkonfirmasi perasaan sensitif itu langsung kepada nya. Dia mengatakan itu hanya perasaan saya. Saya pun menyetujui itu sambil berpikir bahwa ini bukan phase sentif saya.
Akan tetapi, hari ini, kata2nya telah membuat air mata saya berderai. Saya sampaikan sekali lagi padanya. Jika ada yang salah dari bahasa saya, mohon saya diberitahu dan dimaafkan, karena nothing I have done to hurt his feeling in purpose. Again dia tidak mengakuinya.
Baiklah, saya sudah mencoba. I have tried darling. But seems you don't want to talk. Ignorance. That's what I can see.
Me re flash back, you told me what way I should take to deal with you. During office hour, you prefer me to call you with ''are you busy?". If no, then we continued the conversation. If yes, then you will call me back.
Cara itu saya gunakan terus. Sampai tiba2 sahabat saya mengatakan, "kalau mau bicara, langsung aja, ga usah pake nanya2 lagi sibuk atau tidak". Disampaikan dengan nada kesal. Karena menurutnya, saya hanya berasumsi dia sedang sibuk. Sayapun mengikuti kembali maunya. Intinya saya menyadari kegagalan bahasa saya, kekacauan cara saya berkomunikasi. Jadi saya setuju dengan cara barunya, karena saya ingin mempunyai komunikasi yang baik dengan sahabat saya.
Hari ini, saya pun langsung memanggilnya melalui YM, langsung tanpa basa basi menanyakan dia lagi sibuk atau tidak. Saya melihat sign di status YM nya. Tidak idle, artinya dia sedang ada di depan computernya. Tapi dia tidak menjawab saya. Begitu panjang message saya. Saya kembali memanipulasi pikiran saya dengan anggapan dia sedang sibuk, dan computernya sedang digunakan oleh orang lain. Ketika waktu berlalu dan saya semakin penasaran, saya menghubunginya melalui telpon,dan dia menjawab bahwa dia sedang main game. Jadi dia tidak sibuk, tapi tidak pula menjawab text saya.
Hari ini, respon sahabat saya untuk kalimat2 saya telah menyakitkan hati saya. Sahabat saya sudah tidak bersahabat lagi terhadap saya. Dan saya tidak tahu ada apa dibalik itu. Bagi saya, come and slap me if I'm wrong. Saya tidak terbiasa dengan cara nada kasar dan marah2.
Mungkin sahabat saya sudah memilih jalan lain yang lebih sesuai baginya, dimana jalan saya sudah tidak sesuai untuknya. Atau mungkin ada sahabat baru untuknya yang lebih cocok dengan nya. So long buddy. Someday, I will still be here, to hold your hand again when you need me.
Minggu, 16 November 2008
Komitmen yang menyakitkan
Kalo di hitung2, jumlah lelaki yang ada dalam hidup ku, rasanya semua jari2 tangan dan kaki ga bakal cukup juga. 'Lelaki dalam hidup ku' tidak berarti lelak yang pernah akau kencani. Ini termasuk ayah, adik, om, sepupu laki2, sahabat, kakek dan lain2 yang memberi warna dalam kehidupanku baik secara langsung maupun tidak langsung.
Hubungan dengan laki2 gampang2 susah. Begitu pula claim sebaliknya yang disebutkan oleh laki2. Ibuku adalah wanita super yang dapat bertahan dengan sangat baik dalam hidup menghadapi suaminya (ya, ayahku). Tetapi hal ini pula lah yang membuatku tidak ingin menikah. Aku tidak ingin menjadi orang seperti Ibuku. Aku sadari, product masa Ibuku memang di didik demikian dalam menghadapi suami. Berbeda dengan wanita di usia ku. Tentu banyak sudah persamaan hak dan kompromi dalam hubungan berumah tangga.
Namun demikian, begitu banyaknya kejadian nyata di sekelilingku. Seorang teman tidak ragu untuk meniduri pacar orang, teman yang lain tetap maen perempuan lain padahal dia kukenal sebagai laki2 yang sangat setia.
Didunia profesional yang sangat terhormat dilingkungan kerjaku, aku berkali2 terkaget2 ketika dalam sebuah business trip mendapati teman2 ku yang telah menikah dengan santai menikmati pasangan orang lain. Sampai mual aku dibuatnya.
Aku bukan perempuan suci. Tapi aku sangat memegang teguh bonding. Even itu dalam formasi pacaran. Apalagi jika itu pernikahan. Selama aku hidup sendiri dan tidak merugikan orang lain, aku tidak keberatan dengan bentuk hubungan saling memuaskan satu sama lain tanpa ikatan. Aku bahkan tidak keberatan menjadi f**k-buddy dengan sahabat ku. Selama masing2 dari kami tidak memiliki hubungan dnegan orang lain.
Seorang teman yang tidak pernah siap berkomitmen, memanfaatkan kelemahan perempuan2 punya pasangan yang tergila2 padanya. Dengan dalih bukan dirinya yang meminta, tetapi mereka yang menyerahkan diri. Mungkin mereka tidak percaya karma. Bagaimana jadinya jika hal ini dilakukan orang lain pada sodara perempuan mereka, atau pada anak2 perempuan mereka kelak.
Aku memilih untuk tidak menyakiti siapapun. Aku memilih untuk tidak berkomitmen.
Hubungan dengan laki2 gampang2 susah. Begitu pula claim sebaliknya yang disebutkan oleh laki2. Ibuku adalah wanita super yang dapat bertahan dengan sangat baik dalam hidup menghadapi suaminya (ya, ayahku). Tetapi hal ini pula lah yang membuatku tidak ingin menikah. Aku tidak ingin menjadi orang seperti Ibuku. Aku sadari, product masa Ibuku memang di didik demikian dalam menghadapi suami. Berbeda dengan wanita di usia ku. Tentu banyak sudah persamaan hak dan kompromi dalam hubungan berumah tangga.
Namun demikian, begitu banyaknya kejadian nyata di sekelilingku. Seorang teman tidak ragu untuk meniduri pacar orang, teman yang lain tetap maen perempuan lain padahal dia kukenal sebagai laki2 yang sangat setia.
Didunia profesional yang sangat terhormat dilingkungan kerjaku, aku berkali2 terkaget2 ketika dalam sebuah business trip mendapati teman2 ku yang telah menikah dengan santai menikmati pasangan orang lain. Sampai mual aku dibuatnya.
Aku bukan perempuan suci. Tapi aku sangat memegang teguh bonding. Even itu dalam formasi pacaran. Apalagi jika itu pernikahan. Selama aku hidup sendiri dan tidak merugikan orang lain, aku tidak keberatan dengan bentuk hubungan saling memuaskan satu sama lain tanpa ikatan. Aku bahkan tidak keberatan menjadi f**k-buddy dengan sahabat ku. Selama masing2 dari kami tidak memiliki hubungan dnegan orang lain.
Seorang teman yang tidak pernah siap berkomitmen, memanfaatkan kelemahan perempuan2 punya pasangan yang tergila2 padanya. Dengan dalih bukan dirinya yang meminta, tetapi mereka yang menyerahkan diri. Mungkin mereka tidak percaya karma. Bagaimana jadinya jika hal ini dilakukan orang lain pada sodara perempuan mereka, atau pada anak2 perempuan mereka kelak.
Aku memilih untuk tidak menyakiti siapapun. Aku memilih untuk tidak berkomitmen.
Rabu, 05 November 2008
I dream of diversity
Seorang teman baru menyapa, dan dia menyebutkan namanya. Aku membalas nya. Lalu dia bertanya, "kamu dari mana?" . Berhubung saya dari kost, maka saya jawab, saya dari kost. Dia tertawa, dan kembali bertanya, "maksud saya, kamu orang mana?" . Sambil tertawa kecil karena merasa bodoh, saya pun menjawab, "Cempaka Putih Timur". Teman baru saya langsung terbahak2. Terus terang saya bingung, tapi saya ikut tertawa bersamanya.
Hari itu saya menerima banyak pertanyaan yang sama dan reaksi yang sama terhadap jawaban saya, beberapa meng klarifikasi dengan, "ooh kamu orang betawi? orang jakarta?
Setelah mencoba mencari penjelasan dari teman yang saya percaya, akhirnya saya mengerti maksud pertanyaan mereka :"Kamu aslinya dari suku apa?"
Sangat aneh bagi telinga saya. Saya yang tinggal di lingkungan multikultural sejak kecil, tidak pernah mempertanyakan asal usul teman2 dan tetangga saya. Apalagi dikala perkenalan pertama. Apakah kesukuan begitu pentingnya untuk dipertanyakan? Saya mencoba flash back ke masa saya tinggal di lingkungan LNG Arun. Teman2 saya bermacam rupa, berbagai warna kulit, matanya ada yg segaris, ada yang besar, ada yang matanya biru, abu2, dan berambut pirang. Tidak pernah saya atau pun mereka mempertanyakan suku mana aslinya mereka. Bagi kami saat itu, semua adalah teman, walau kami berantem juga sesekali (Scott yang pernah melempar bola basket ke muka saya dan membuat bibir saya pecah berdarah). Kami menyadari kami berbeda, tapi tidak membesar2kan perbedaan itu.
Dalam pementasan budaya sekolah, tidak semua orang membawakan tarian atau baju daerah asal orang tua nya. Saya masih ingat saya memakai baju national Korea, sedangkan teman saya yang dari Manado memakai pakaian adat Aceh, dan teman lain yang dari Kalimantan menggunakan pakaian adat dari Bali. Tidak ada daerahisme yang berlebihan.
Beberapa tahun yang lalu, teman2 dari dunia kerja menambah kepusingan saya. Selain mereka mempertanyakan asal usul daerah asli saya, mereka kerap bertanya, "agama lo apa?". Gees! Bagi saya agama adalah sesuatu yang sangat pribadi, personal, individual. Akan tetapi, kali ini saya lebih diplomatis menjawab pertanyaan tersebut,"kenapa kamu ingin tahu agama saya apa?" Teman saya menjawab, "hanya ingin tahu". Dan saya pun tidak memberitahu.
Sebegitu pentingnya kah tau agama orang lain dalam hal pertemanan. Jika seseorang beragama Kristen, dan yang lain beragama Budha, lalu tidak jadi berteman?
Seseorang dengan pikiran yang sangat dangkal suatu hari men judge saya dan mengatakan seperti ini, "lo pasti akan lebih menolong orang Aceh dari pada orang Medan dong, sama seperti gw yang akan lebih menolong orang Banten dari pada orang Ambon".
No way! Saya tidak menolong orang, berdasarkan kesamaan daerah asal. Jelas2 saya akan menolong teman baik saya yang sedang kesusahan walaupun dia itu Chinese, dari pada saya menolong seseorang yang saya tidak kenal sama sekali walopun asalnya dari Aceh. Get real man! Percaya kan kalo saya bilang orang ini dangkal sekali.
Sampai sekarang, saya masih memimpikan hidup di dunia yang berwarna warni. Kita terlahir dengan ras dan warna kulit, rambut, mata yang tidak bisa kita pilih. Dan tidak ada satupun jenis yang lebih baik dari jenis yang lain. Yang penting adalah cara kita berhubungan satu sama lain dan menghargai perbedaan itu. Kapan ya...semua mimpi itu terwujud?
Hari itu saya menerima banyak pertanyaan yang sama dan reaksi yang sama terhadap jawaban saya, beberapa meng klarifikasi dengan, "ooh kamu orang betawi? orang jakarta?
Setelah mencoba mencari penjelasan dari teman yang saya percaya, akhirnya saya mengerti maksud pertanyaan mereka :"Kamu aslinya dari suku apa?"
Sangat aneh bagi telinga saya. Saya yang tinggal di lingkungan multikultural sejak kecil, tidak pernah mempertanyakan asal usul teman2 dan tetangga saya. Apalagi dikala perkenalan pertama. Apakah kesukuan begitu pentingnya untuk dipertanyakan? Saya mencoba flash back ke masa saya tinggal di lingkungan LNG Arun. Teman2 saya bermacam rupa, berbagai warna kulit, matanya ada yg segaris, ada yang besar, ada yang matanya biru, abu2, dan berambut pirang. Tidak pernah saya atau pun mereka mempertanyakan suku mana aslinya mereka. Bagi kami saat itu, semua adalah teman, walau kami berantem juga sesekali (Scott yang pernah melempar bola basket ke muka saya dan membuat bibir saya pecah berdarah). Kami menyadari kami berbeda, tapi tidak membesar2kan perbedaan itu.
Dalam pementasan budaya sekolah, tidak semua orang membawakan tarian atau baju daerah asal orang tua nya. Saya masih ingat saya memakai baju national Korea, sedangkan teman saya yang dari Manado memakai pakaian adat Aceh, dan teman lain yang dari Kalimantan menggunakan pakaian adat dari Bali. Tidak ada daerahisme yang berlebihan.
Beberapa tahun yang lalu, teman2 dari dunia kerja menambah kepusingan saya. Selain mereka mempertanyakan asal usul daerah asli saya, mereka kerap bertanya, "agama lo apa?". Gees! Bagi saya agama adalah sesuatu yang sangat pribadi, personal, individual. Akan tetapi, kali ini saya lebih diplomatis menjawab pertanyaan tersebut,"kenapa kamu ingin tahu agama saya apa?" Teman saya menjawab, "hanya ingin tahu". Dan saya pun tidak memberitahu.
Sebegitu pentingnya kah tau agama orang lain dalam hal pertemanan. Jika seseorang beragama Kristen, dan yang lain beragama Budha, lalu tidak jadi berteman?
Seseorang dengan pikiran yang sangat dangkal suatu hari men judge saya dan mengatakan seperti ini, "lo pasti akan lebih menolong orang Aceh dari pada orang Medan dong, sama seperti gw yang akan lebih menolong orang Banten dari pada orang Ambon".
No way! Saya tidak menolong orang, berdasarkan kesamaan daerah asal. Jelas2 saya akan menolong teman baik saya yang sedang kesusahan walaupun dia itu Chinese, dari pada saya menolong seseorang yang saya tidak kenal sama sekali walopun asalnya dari Aceh. Get real man! Percaya kan kalo saya bilang orang ini dangkal sekali.
Sampai sekarang, saya masih memimpikan hidup di dunia yang berwarna warni. Kita terlahir dengan ras dan warna kulit, rambut, mata yang tidak bisa kita pilih. Dan tidak ada satupun jenis yang lebih baik dari jenis yang lain. Yang penting adalah cara kita berhubungan satu sama lain dan menghargai perbedaan itu. Kapan ya...semua mimpi itu terwujud?
Langganan:
Postingan (Atom)