Aku kenal baik lelaki ini. Namanya Dimas. Aku telah mengikuti sepak terjangnya dengan para wanita. Ya, Dimas adalah temanku sejak masih di Uni.
Years ago, cewe pertamanya (Anggia) dijalani dlm hubungan pacaran selama 5 tahun. Akhirnya berpisah, dengan alasan perbedaan agama. Anggia menikah dengan lelaki lain beberapa saat setelah perpisahan itu. Sakit? Pasti.
Cewe berikutnya adalah Inneke hanya berjalan beberapa bulan saja. Inneke cantik sekali. Tapi terlalu banyak perbedaan, terutama masalah harta. Inneke dari kalangan jetset. Kesamaan mereka hanya ada pada kebutuhan sexual saja. Akhirnya Inneke menemukan cowo barunya, yang sederajat secara sosial ekonomi menurut keluarganya. Sementara itu Dimas berpetualang dari satu cewe ke cewe lain, tidak ada satupun yang serius.
Lalu entah bagaimana, Dimas sempat kembali ke Inneke yang jetset tadi ketika Inneke putus dari cowonya. Lagi2 karena kebutuhan sexual. Beberapa bulan kemudian, Inneke menemukan pacar baru. Dimas pun kelimpungan. Merasa kalah angin di depan teman2 yang lain, dia menggaet Diana, cewe orang lain, yang cowonya sedang bertugas diluar kota untuk waktu yang lama. Dimas sangat mengerti memanfaatkan kelemahan orang lain. Diana yang haus belaian pacar resminya pun berhasil digaetnya. Dijadikan pacar sambilan. Intinya sama2 mau, sama2 butuh. Lalu kembalilah si pacar resmi ke ibukota. Dan, dengan terpaksa dilepaskanlah Diana.
Lalu ada Angel, cewe cantik, baik hati, rajin beribadah, seiman, supel dan pinter yang ingin dijadikan pacar olehnya. Seperti biasa, aku selalu menjadi tempat konsultasinya. Dan ya, ini adalah cewe yang tepat untuk Dimas menurutku. Aku pun dengan semangat mengompori mereka berdua walopun dua2nya udah saling suka.
Dilain kesempatan masih dalam bulan yang sama, dalam sebuah perjalanan, Dimas mengenal Devi, cewe yang menarik, pintar tapi tidak seiman. Cantik? Ya. Selebihnya? I don't like her. Kenapa? Karena dari kesan pertama, aku merasa Devi ini just an ordinary cewe seperti cewe2 yg sebelumya diajak tidur oleh Dimas. But what can I say. Yang jatuh cinta kan Dimas, bukan aku. Akupun stay aside, tidak ingin mempengaruhi apa2. Seperti biasa aku akan mendukungnya habis2an jika itu baik, tapi jika kami tdk sependapat, aku lebih baik diam. Tidak ingin menjelek2an. Tidak baik itu. Itu juga yang dilakukan Dimas.
Angel dan Devi dibawa Dimas dalam satu hubungan pacaran segitiga. Aku pernah berkomentar pada Dimas, "kamu tidak akan bisa dapat dua2nya, pilih salah satu atau kamu akan kehilangan dua2nya". Dimas masih bingung memilih yang mana untuk dipertahankan. Angel merasa ada yang salah dalam hubungan tersebut dan memastikannya kepada Dimas. Karena Dimas tidak bisa memberikan jawaban yang layak, Angelpun mundur dari hubungan pacar secara baik2 dan mereka tetap dapat berteman. Angel merasa dirinya diduakan, itu yang disampaikannya kepadaku. Aku tidak bilang apa2. Angel bilang ada hati yang harus di protec didalam dirinya. Dan hanya dia yang bisa melakukannya. Dia tidak ngin orang lain menghancurkannya.
Sayangnya mereka tidak pernah menyampaikan pada dunia (kecuali padaku) bahwa mereka sudah tidak berpacaran lagi. Jadi people around them taunya they are still in the relationship. Angel dan Dimas memang tetap bisa berteman karena mereka memang memulainya sebagai teman dan mereka berada dalam dunia kerja yang sama.
Devi tahu sejak awal bahwa Dimas berpacaran dengan Angel. Saat itupun Devi sedang berpacaran dengan lelaki ganteng (ya, aku melihat fotonya). Devi dan Dimas merasa mereka tidak perlu munafik, karena saling membutuhkan secara sexual. Pada akhirnya Devi tahu, bahwa Dimas dan Angel telah berpisah, Devi seperti telah memenangkan pertarungan, tentunya merasa happy. Dan ingin dibawa ke public dan dikenalkan dengan teman2 yang lain. Sayangnya Dimas tidak menginginkan itu. Dia tetap mau orang2 berpikir bahwa dia masih mempunyai hubungan pacar dengan Angel. Karena apa kata dunia, kalau tiba2 Dimas mengenalkan Devi sebagai pacarnya, sedangkan orang2 taunya Dimas pacaran dengan Angel. Dan orang2 itu semua adalah teman2 sekantornya. Oh no. I can't do that. Itu kata Dimas kepada ku (dan kepada Devi).
Berkali2 Devi meminta dan meminta. Akhirnya setelah menunggu dan menunggu, Devi tidak mau lagi menunggu lebih lama. She had enough. Devi meninggalkan Dimas. Devi merasa dirinya sia2 memberi semuanya tapi tidak diakui juga. Devi benar2 marah dan kecewa. Bahkan tidak mau lagi memberi kesempatan kepada Dimas. Bahkan Devi tidak mau menjawab telpon Dimas. Aku diminta Dimas membantu menjelaskan hal ini ke Devi. Telponku pun tidak dijawab oleh Devi. Dan Dimas pun menangis. Memohon diberi kesempatan lagi. I love her and I love her, too. Gubraks.
Aku hanya bengong. Aku pikir Dimas telah berubah pikiran, ternyata tetap aja !
Minggu, 20 Juli 2008
Sabtu, 19 Juli 2008
Dibodohi rasa kasian
Pernah memiliki teman baik, sahabat, bestfriend, soulmate friend or whatever you called them ? Dalam satu babak kehidupanku, aku pernah keluar dari lingkaran yang telah menjebakku dari rasa kesatuan dan keterikatan dalam istilah tesebut. Ya, waktu itu aku merasakan hubungan yang tidak seimbang. Aku merasa aku telah berlebihan. Mungkin aku over-owned terhadap seseorang. Jadi it was only me yang merasa bahwa dia adalah sahabatku sedangkan dia tidak merasa demikian. Kasar2nya ya...orang bego juga bisa lihat. Kalau dia sedang sakit, aku yang akan ada disana siang malam, membantunya membersihkan diri, membantu membersihkan muntahannya, menggantikan bajunya. Membawakan semua yang dibutuhkannya. Sebagai manusia biasa, pastinya akupun mengharapkan seorang sahabat akan melakukan hal yang sama untukku. Kenyataannya? I've been sick sejak October tahun lalu. Menjalani terapi ini itu. Berapa sering dia ada disampingku? Not even one. Nol. Ga pernah. Hahahaha. Semua juga melongo, mulut menganga lebar. Mungkin dia sedang berada di luar daerah? Atau mungkin dia sedang berada di luar negeri? Hihihihii....dia cuman sekitar 30 menit perjalanan dari tempatku. Tapi dia tidak pernah muncul.
Well, ga fair juga kalo dibilang dia tidak peduli terhadapku. Dia selalu mnelponku. Menanyakan kondisiku. Dia bilang dia peduli banget sama aku. Tapi dia ga pernah muncul. Ada yang bisa percaya? Pertama2 sih aku pikir dia sibuk sekali dengan pekerjaannya. Tapi, ini abad technology. Huahahaha...ada Friendster, ada Facebook dan ada Multiply yang menerangkan semua kondisi kepadaku. Dia ada di mana2 berkumpul dengan banyak teman2 berbeda, hangout, ngopi, party...you name it. Tapi dia tidak pernah sekalipun datang ke tempatku ketika aku sakit.
Akhirnya hal itu aku sampaikan secara terbuka padanya. Dia sedih sekali katanya. Dia punya banyak keterbatasan. Tapi dia ingin sekali menemaniku melewati hari2 perawatan. Tekadku yang sudah bulat untuk tidak bertemu dengannya lagi seketika hilang. Aku merasa kasian padanya. Apalagi dia bilang, bahwa hanya aku satu2nya yang dia punya, yang mengerti dia.
Tapi, aku hanya manusia biasa. Setelah memberinya kesempatan lagi, akhirnya aku tiba di ujung jalan. Jalan yang ingin aku lalui dengan orang2 yang bisa menemani aku. Dan aku tahu dia tidak bisa. Maafkan aku kawan. Aku harus meninggalkanmu. Aku tidak bisa membiarkan kamu menggunakan akhir waktu ku hanya memikirkan yang terbaik untuk mu, tapi aku perlu banyak waktu untuk diriku dan orang2 yang benar2 sayang padaku.
Well, ga fair juga kalo dibilang dia tidak peduli terhadapku. Dia selalu mnelponku. Menanyakan kondisiku. Dia bilang dia peduli banget sama aku. Tapi dia ga pernah muncul. Ada yang bisa percaya? Pertama2 sih aku pikir dia sibuk sekali dengan pekerjaannya. Tapi, ini abad technology. Huahahaha...ada Friendster, ada Facebook dan ada Multiply yang menerangkan semua kondisi kepadaku. Dia ada di mana2 berkumpul dengan banyak teman2 berbeda, hangout, ngopi, party...you name it. Tapi dia tidak pernah sekalipun datang ke tempatku ketika aku sakit.
Akhirnya hal itu aku sampaikan secara terbuka padanya. Dia sedih sekali katanya. Dia punya banyak keterbatasan. Tapi dia ingin sekali menemaniku melewati hari2 perawatan. Tekadku yang sudah bulat untuk tidak bertemu dengannya lagi seketika hilang. Aku merasa kasian padanya. Apalagi dia bilang, bahwa hanya aku satu2nya yang dia punya, yang mengerti dia.
Tapi, aku hanya manusia biasa. Setelah memberinya kesempatan lagi, akhirnya aku tiba di ujung jalan. Jalan yang ingin aku lalui dengan orang2 yang bisa menemani aku. Dan aku tahu dia tidak bisa. Maafkan aku kawan. Aku harus meninggalkanmu. Aku tidak bisa membiarkan kamu menggunakan akhir waktu ku hanya memikirkan yang terbaik untuk mu, tapi aku perlu banyak waktu untuk diriku dan orang2 yang benar2 sayang padaku.
Jumat, 18 Juli 2008
kecil & BESAR
Aku merasa kecil sekali di tengah keluarga besar ku. Bukan arti secara harfiah. Itu sih memang ;p Semua adik2 ku sukses berat dalam hidup nya. Walopun ada yang ga bekerja, tapi dia tetep hidup seneng karena suaminya kaya raya. Bukan karena warisan lho, tapi karena emang seorang pekerja yang sukses. Ini jadi nilai plus plus dimata keluargaku. Menantu kesayangan lah ibaratnya.
Adikku yang lain, seorang PR ternama. Pergaulannya sangat luas, dikenal di tingkat pemerintahan pula. Suaminya dari kalangan militer. Walopun secara keuangan mereka tida sehebat adikku yang tadi, tapi adikku yang ini favorite keluarga. Adikku yang ini memang sangat menyenangkan.
Adikku yang paling bontot sekarang justru sudah punya perusahaan sendiri. Well, peruhaan kongsi sih sebenarnya. Bisnisnya worldwide. Dalam 1 tahun sejak selesai kuliah, pendapatannya sudah berjuta2 rasanya. Dan dia tidak memerlukan capital selain otaknya untuk berbisnis. Aku sangat bangga dengan adikku yang ini.
Lalu, siapakah aku? Hanya seorang pegawai biasa. Posisi managerial level di IT company ternama. Tapi ya itu, biasa2 saja. I don't have certain talent like others. I just want to work and creat things. Keahlianku hanya di profiling. Tapi aku tidak menemukan company yang membutuhkan profiler. Jadinya, ya aku tetap tak berarti banyak untuk sebuah perusahaan IT.
Intinya, dibanding adik2 ku, dan keberhasilan orang tua ku, aku tidak ada artinya. Terus terang ini membuatku minder. Sering aku hanya terpaku tidak tau harus bagaimana kalau tiba dalam situasi dimana orang tuaku sedang membanggakan anak2 nya yang lain. Suatu hari, papaku sedang berbicara di telpon dengan salah seorang adik ku,"si adek mau renovasi rumah papa nih, banyak duit nih dia sekarang". Dengan bangga papa ku bercerita. Aku tidak pernah berinisiatif untuk melakukan renovasi rumah atau apalah. Karena keuanganku tidak sebaik adikku. Aku jadi malu sekali.
Dilain waktu, kami pergi makan sekeluarga. Ketika tiba saatnya membayar, aku segera mengeluarkan uangku. Tapi dengan cepat pula adikku melakukan pembayaran dan menolak uangku. Aku tidak enak. Selalu saja adikku yang membayar. Papa dan mami ku selalu merasa bangga akan uang yang dikeluarkan adik ku. Tapi itu membuat posisiku semakin kecil. Terkesan aku tidak punya kontribusi apa2 di keluarga.
Kembali ke masa lalu. Aku masih ingat, betapa dulu kedua orang tuaku membanggakan aku. Prestasiku di bangku kuliah, ketika aku bisa mendapat kerja dengan usaha ku sendiri, ketika aku ikut menyicil membeli rumah dari gajiku. Ketika aku mampu mencicil membeli mobil...Dulu mereka selalu membanggakan aku. Adik2 ku selalu disuruh mencontoh aku.
Tapi sekarang, aku bagaikan seseorang tanpa nilai. Aku ingin memberi lebih kepada keluargaku sebatas kemampuanku. Tapi kelihatannya mereka tidak memberiku kesempatan. Karena aku terlalu kecil dibanding yang lain.
Sedih, kecewa...bukan pada mereka. Tapi pada kemampuanku. Aku bersumpah, suatu hari nanti aku akan tunjukkan pada mereka. Aku bisa memberi sesuatu yang besar. Ya, aku pasti bisa.
Adikku yang lain, seorang PR ternama. Pergaulannya sangat luas, dikenal di tingkat pemerintahan pula. Suaminya dari kalangan militer. Walopun secara keuangan mereka tida sehebat adikku yang tadi, tapi adikku yang ini favorite keluarga. Adikku yang ini memang sangat menyenangkan.
Adikku yang paling bontot sekarang justru sudah punya perusahaan sendiri. Well, peruhaan kongsi sih sebenarnya. Bisnisnya worldwide. Dalam 1 tahun sejak selesai kuliah, pendapatannya sudah berjuta2 rasanya. Dan dia tidak memerlukan capital selain otaknya untuk berbisnis. Aku sangat bangga dengan adikku yang ini.
Lalu, siapakah aku? Hanya seorang pegawai biasa. Posisi managerial level di IT company ternama. Tapi ya itu, biasa2 saja. I don't have certain talent like others. I just want to work and creat things. Keahlianku hanya di profiling. Tapi aku tidak menemukan company yang membutuhkan profiler. Jadinya, ya aku tetap tak berarti banyak untuk sebuah perusahaan IT.
Intinya, dibanding adik2 ku, dan keberhasilan orang tua ku, aku tidak ada artinya. Terus terang ini membuatku minder. Sering aku hanya terpaku tidak tau harus bagaimana kalau tiba dalam situasi dimana orang tuaku sedang membanggakan anak2 nya yang lain. Suatu hari, papaku sedang berbicara di telpon dengan salah seorang adik ku,"si adek mau renovasi rumah papa nih, banyak duit nih dia sekarang". Dengan bangga papa ku bercerita. Aku tidak pernah berinisiatif untuk melakukan renovasi rumah atau apalah. Karena keuanganku tidak sebaik adikku. Aku jadi malu sekali.
Dilain waktu, kami pergi makan sekeluarga. Ketika tiba saatnya membayar, aku segera mengeluarkan uangku. Tapi dengan cepat pula adikku melakukan pembayaran dan menolak uangku. Aku tidak enak. Selalu saja adikku yang membayar. Papa dan mami ku selalu merasa bangga akan uang yang dikeluarkan adik ku. Tapi itu membuat posisiku semakin kecil. Terkesan aku tidak punya kontribusi apa2 di keluarga.
Kembali ke masa lalu. Aku masih ingat, betapa dulu kedua orang tuaku membanggakan aku. Prestasiku di bangku kuliah, ketika aku bisa mendapat kerja dengan usaha ku sendiri, ketika aku ikut menyicil membeli rumah dari gajiku. Ketika aku mampu mencicil membeli mobil...Dulu mereka selalu membanggakan aku. Adik2 ku selalu disuruh mencontoh aku.
Tapi sekarang, aku bagaikan seseorang tanpa nilai. Aku ingin memberi lebih kepada keluargaku sebatas kemampuanku. Tapi kelihatannya mereka tidak memberiku kesempatan. Karena aku terlalu kecil dibanding yang lain.
Sedih, kecewa...bukan pada mereka. Tapi pada kemampuanku. Aku bersumpah, suatu hari nanti aku akan tunjukkan pada mereka. Aku bisa memberi sesuatu yang besar. Ya, aku pasti bisa.
Kamis, 17 Juli 2008
I am so lucky

Setiap pagi, begitu nyampe di kantor, memarkir mobil di basement, aku selalu naik tangga instead of lift ke lantai 1. Hahaha, ya iya lah. Satu lantai doang. Mana mau aku nungguin lift lama2. Mampir kelantai 1 hanya untuk beli green tea. nu green tea less sugar. Pelanggan setia. About a week ago, aku dpt hadiah promo nu green tea, yang tertulis di tutup setiap botol. Dapet 1 botol lagi. Yeeeee...Buat ku itu namanya keberuntungan. Jarang2 banget bisa dapet begini.
Asal mulanya sih aku dulu dapat hadiah promo beng beng berupa dapet 1 beng beng lagi. Itu aku dapetin beberapa kali. Sejak saat itu aku percaya aku juga bisa beruntung. Dan ternyata apa yang aku percaya menjadi nyata. Setelah seminggu berlalu hari ini aku mendapatkan hadiah nu green tea lagi. Pagi2 beli 1 botol, pas dibuka berhadiah 1 botol lagi. Berhubung hari ini panas sekali, aku minum dengan cepat. Ketika kembali dari makan siang aku membeli 1 botol lagi sambil menukar hadiah. Jadi aku sekarang pegang dua botol dong. Begitu sampe ke ruangan ku, botol ku ternyata berhadiah 1 botol lagi. Hahahaha...senangnya. Lalu yang satu botol aku berikan ke teman lain. Dan ketika dibuka berhadiah 1 botol lagi. Hebat. Hari ini benar2 beruntung. Aku yakin aku bisa mendapatkan hadiah yang seratus juta. Ya aku bisa.
Rabu, 16 Juli 2008
Show People You Care
I heard a lot of words. People said they care about me. Do I believe them? For me seeing is believing. When one said, "I really want to be with you, because I do care about you" The fact is he never showed up, while he is only less than 15 km away. He always has time for other, but not for "the one he cares".
Ways to Show People You Care :
1. Notice them.
2. Smile at them.
3. Encourage them to think big.
4. Look them in the eye when you talk to them.
5. Ask them about themselves.
6. Let them tell you how they feel.
7. Listen to their stories.
8. Call them on the phone just to say hi.
9. Answer their questions.
10. Ask them their opinions.
11. Give them your undivided attention.
12. Believe what they say.
13. Tell them what you like about them.
14. Delight in their discoveries.
15. Listen to their favorite music with them.
16. Tolerate their interruptions.
17. Suggest better behaviors when they act up or act out.
18. Show up at their games, concerts, and special events.
19. Tell them how much you like being with them.
20. Tell them about yourself.
21. Help them take a stand, then stand with them.
22. Ask them to help you with something.
23. Keep the promises you make to them.
24. Tell them how proud you are of them.
25. Send them a letter, postcard, or e-mail.
26. Introduce them to your friends and family.
27. Make time to be with them.
28. Be excited when you see them.
29. Notice when they grow.
30. Remember their birthdays.
31. Believe in them.
32. Meet their friends and family.
33. Include them in conversations.
34. Laugh at their jokes.
35. Do things together.
36. Respect them.
37. Find a common interest.
38. Do what they like to do.
39. Applaud their success.
40. Contribute to their collections.
41. Read aloud together.
42. Accept them as they are.
43. Share a meal together.
44. Go places together.
45. Build something together.
46. Make decisions together.
47. Help them learn something new.
48. Be honest with them.
49. Encourage them to help others.
50. Let them make mistakes.
51. Admit when you make a mistake.
52. Be nice to them.
53. Act you care as you said you care.
Ways to Show People You Care :
1. Notice them.
2. Smile at them.
3. Encourage them to think big.
4. Look them in the eye when you talk to them.
5. Ask them about themselves.
6. Let them tell you how they feel.
7. Listen to their stories.
8. Call them on the phone just to say hi.
9. Answer their questions.
10. Ask them their opinions.
11. Give them your undivided attention.
12. Believe what they say.
13. Tell them what you like about them.
14. Delight in their discoveries.
15. Listen to their favorite music with them.
16. Tolerate their interruptions.
17. Suggest better behaviors when they act up or act out.
18. Show up at their games, concerts, and special events.
19. Tell them how much you like being with them.
20. Tell them about yourself.
21. Help them take a stand, then stand with them.
22. Ask them to help you with something.
23. Keep the promises you make to them.
24. Tell them how proud you are of them.
25. Send them a letter, postcard, or e-mail.
26. Introduce them to your friends and family.
27. Make time to be with them.
28. Be excited when you see them.
29. Notice when they grow.
30. Remember their birthdays.
31. Believe in them.
32. Meet their friends and family.
33. Include them in conversations.
34. Laugh at their jokes.
35. Do things together.
36. Respect them.
37. Find a common interest.
38. Do what they like to do.
39. Applaud their success.
40. Contribute to their collections.
41. Read aloud together.
42. Accept them as they are.
43. Share a meal together.
44. Go places together.
45. Build something together.
46. Make decisions together.
47. Help them learn something new.
48. Be honest with them.
49. Encourage them to help others.
50. Let them make mistakes.
51. Admit when you make a mistake.
52. Be nice to them.
53. Act you care as you said you care.
Kamis, 14 Februari 2008
Aku akan baik-baik saja
Terkadang medical treatment yang kujalani membuatku hampir menyerah. Benar2 menguras seluruh energy ku. Rontoknya rambut bukan masalah besar untukku. Menjadi botak sih aku bisa menghadapinya. Tetapi rasa mual yang tidak ada tandingannya. Muntah yang tiada hentinya. Sampai seluruh isi perut habis. Perut kram. Ga bisa mengangkat tubuhku sendiri untuk beranjak dari suatu tempat ke tempat lain. Benar2 menyiksa. Apalagi berada di negeri orang. Jauh dari keluarga.
Tapi aku tidak ingin menyerah. aku harus tetap kuat. Aku harus sembuh. Aku harus hidup. Lebih lama lagi. Masih banyak hal yang ingin aku lakukan. Aku masih ingin mengunjungi Moscow. Masih ingin pergi ke Hawaii. Ingin melakukan perjalanan melintasi Eropa. Lebih dari itu semua, aku belum sempat melintasi semua wilayah di Indonesia Timur.
Jadi, aku harus sembuh. Pagi ini aku akan pergi ke salon untuk menata rambutku. Aku ingin tetap terlihat cantik. Biaya untuk menggunting rambut disini mahal sekali. Tapi tidak mengapa. Sesekali menyenangkan diri sendiri. Aku layak mendapatkannya setelah semua yang aku lalui.
Dengan menumpang bus aku menuju pusat kota. Lalu turun di perhentian di depan tempat makan. Aku memutuskan untuk masuk dulu. Masih terlalu pagi. Aku putuskan untuk memesan secangkir kopi. Aku membaca buku yang kubawa. Buku yang dikirim temanku untuk menemani hari2 ku di rumah. Menarik sekali. tentang beberapa jiwa yang hidup di dalam satu tubuh.
Aku terkejut ketika cahaya matahari membuatku silau. Aah, sudah lebih dari 1 jam ternyata aku disini. Saatnya beranjak ke salon. Aku keluar dari coffeeshop dan melangkahkan kakiku dengan ringan ke tempat penata rambut.
Sergio, stylist yang ku kenal menyambutku. Dia bawel sekali, bertanya ini dan itu. Tapi itulah Sergio. Seorang yang sangat menyenangkan. Lalu dengan sigapnya dia menata rambutku yang sudah semakin tipis.
Setelah selesai, aku pun terkagum2 dengan hasilnya. Sergio langsung mengambil camera polaroidnya dan menjepret nya. Photonya aku bawa pulang. Tidak lupa memberikan tip buat Sergio. Dari salon aku tidak langsung pulang. Aku pergi e toko buku. melihat - lihat saja. Siapa tahu ada buku menarik lagi.
Aku selalu tertarik membaca buku2 advertising. Aku sudah membelinya beberapa. Philosophy nya yang bagus. Sebenarnya ilmunya bisa diterapkan dalam semua bidang.
Aku mulai kelelahan. Saatnya pulang. Kembali dengan bus. Aku tiba di dekat rumah bersamaan dengan Niklas tiba disana. Kamipun berjalan bersama menuju rumah. Dimitri ternyata ada di rumah. Dia sudah menyiapkan makan malam untuk kita semua.
Setelah menikmati makan malam, kamipun duduk2 santai sambil minum kopi dan tentu saja, bahasan kami kembali ke buku yang sedang aku baca. menjelang tengah malam, aku memutuskan masuk ke kamar. Dimitri ikut dengan ku. Menjatuhkan tubuhku kedalam tempat tidur dengan sprei putih dan halus ini benar2 suatu kenikmatan tersendiri. Dimitri berbaring disampingku. Dimitri selalu berdoa bersamaku sebelum aku tidur. Dimitri bilang kalau semua akan baik2 saja. Kalimat itu terus dibisikkannya ketelinga ku sampai aku tertidur lelap.
Langganan:
Postingan (Atom)
