Aku merasa kecil sekali di tengah keluarga besar ku. Bukan arti secara harfiah. Itu sih memang ;p Semua adik2 ku sukses berat dalam hidup nya. Walopun ada yang ga bekerja, tapi dia tetep hidup seneng karena suaminya kaya raya. Bukan karena warisan lho, tapi karena emang seorang pekerja yang sukses. Ini jadi nilai plus plus dimata keluargaku. Menantu kesayangan lah ibaratnya.
Adikku yang lain, seorang PR ternama. Pergaulannya sangat luas, dikenal di tingkat pemerintahan pula. Suaminya dari kalangan militer. Walopun secara keuangan mereka tida sehebat adikku yang tadi, tapi adikku yang ini favorite keluarga. Adikku yang ini memang sangat menyenangkan.
Adikku yang paling bontot sekarang justru sudah punya perusahaan sendiri. Well, peruhaan kongsi sih sebenarnya. Bisnisnya worldwide. Dalam 1 tahun sejak selesai kuliah, pendapatannya sudah berjuta2 rasanya. Dan dia tidak memerlukan capital selain otaknya untuk berbisnis. Aku sangat bangga dengan adikku yang ini.
Lalu, siapakah aku? Hanya seorang pegawai biasa. Posisi managerial level di IT company ternama. Tapi ya itu, biasa2 saja. I don't have certain talent like others. I just want to work and creat things. Keahlianku hanya di profiling. Tapi aku tidak menemukan company yang membutuhkan profiler. Jadinya, ya aku tetap tak berarti banyak untuk sebuah perusahaan IT.
Intinya, dibanding adik2 ku, dan keberhasilan orang tua ku, aku tidak ada artinya. Terus terang ini membuatku minder. Sering aku hanya terpaku tidak tau harus bagaimana kalau tiba dalam situasi dimana orang tuaku sedang membanggakan anak2 nya yang lain. Suatu hari, papaku sedang berbicara di telpon dengan salah seorang adik ku,"si adek mau renovasi rumah papa nih, banyak duit nih dia sekarang". Dengan bangga papa ku bercerita. Aku tidak pernah berinisiatif untuk melakukan renovasi rumah atau apalah. Karena keuanganku tidak sebaik adikku. Aku jadi malu sekali.
Dilain waktu, kami pergi makan sekeluarga. Ketika tiba saatnya membayar, aku segera mengeluarkan uangku. Tapi dengan cepat pula adikku melakukan pembayaran dan menolak uangku. Aku tidak enak. Selalu saja adikku yang membayar. Papa dan mami ku selalu merasa bangga akan uang yang dikeluarkan adik ku. Tapi itu membuat posisiku semakin kecil. Terkesan aku tidak punya kontribusi apa2 di keluarga.
Kembali ke masa lalu. Aku masih ingat, betapa dulu kedua orang tuaku membanggakan aku. Prestasiku di bangku kuliah, ketika aku bisa mendapat kerja dengan usaha ku sendiri, ketika aku ikut menyicil membeli rumah dari gajiku. Ketika aku mampu mencicil membeli mobil...Dulu mereka selalu membanggakan aku. Adik2 ku selalu disuruh mencontoh aku.
Tapi sekarang, aku bagaikan seseorang tanpa nilai. Aku ingin memberi lebih kepada keluargaku sebatas kemampuanku. Tapi kelihatannya mereka tidak memberiku kesempatan. Karena aku terlalu kecil dibanding yang lain.
Sedih, kecewa...bukan pada mereka. Tapi pada kemampuanku. Aku bersumpah, suatu hari nanti aku akan tunjukkan pada mereka. Aku bisa memberi sesuatu yang besar. Ya, aku pasti bisa.
Jumat, 18 Juli 2008
Kamis, 17 Juli 2008
I am so lucky

Setiap pagi, begitu nyampe di kantor, memarkir mobil di basement, aku selalu naik tangga instead of lift ke lantai 1. Hahaha, ya iya lah. Satu lantai doang. Mana mau aku nungguin lift lama2. Mampir kelantai 1 hanya untuk beli green tea. nu green tea less sugar. Pelanggan setia. About a week ago, aku dpt hadiah promo nu green tea, yang tertulis di tutup setiap botol. Dapet 1 botol lagi. Yeeeee...Buat ku itu namanya keberuntungan. Jarang2 banget bisa dapet begini.
Asal mulanya sih aku dulu dapat hadiah promo beng beng berupa dapet 1 beng beng lagi. Itu aku dapetin beberapa kali. Sejak saat itu aku percaya aku juga bisa beruntung. Dan ternyata apa yang aku percaya menjadi nyata. Setelah seminggu berlalu hari ini aku mendapatkan hadiah nu green tea lagi. Pagi2 beli 1 botol, pas dibuka berhadiah 1 botol lagi. Berhubung hari ini panas sekali, aku minum dengan cepat. Ketika kembali dari makan siang aku membeli 1 botol lagi sambil menukar hadiah. Jadi aku sekarang pegang dua botol dong. Begitu sampe ke ruangan ku, botol ku ternyata berhadiah 1 botol lagi. Hahahaha...senangnya. Lalu yang satu botol aku berikan ke teman lain. Dan ketika dibuka berhadiah 1 botol lagi. Hebat. Hari ini benar2 beruntung. Aku yakin aku bisa mendapatkan hadiah yang seratus juta. Ya aku bisa.
Rabu, 16 Juli 2008
Show People You Care
I heard a lot of words. People said they care about me. Do I believe them? For me seeing is believing. When one said, "I really want to be with you, because I do care about you" The fact is he never showed up, while he is only less than 15 km away. He always has time for other, but not for "the one he cares".
Ways to Show People You Care :
1. Notice them.
2. Smile at them.
3. Encourage them to think big.
4. Look them in the eye when you talk to them.
5. Ask them about themselves.
6. Let them tell you how they feel.
7. Listen to their stories.
8. Call them on the phone just to say hi.
9. Answer their questions.
10. Ask them their opinions.
11. Give them your undivided attention.
12. Believe what they say.
13. Tell them what you like about them.
14. Delight in their discoveries.
15. Listen to their favorite music with them.
16. Tolerate their interruptions.
17. Suggest better behaviors when they act up or act out.
18. Show up at their games, concerts, and special events.
19. Tell them how much you like being with them.
20. Tell them about yourself.
21. Help them take a stand, then stand with them.
22. Ask them to help you with something.
23. Keep the promises you make to them.
24. Tell them how proud you are of them.
25. Send them a letter, postcard, or e-mail.
26. Introduce them to your friends and family.
27. Make time to be with them.
28. Be excited when you see them.
29. Notice when they grow.
30. Remember their birthdays.
31. Believe in them.
32. Meet their friends and family.
33. Include them in conversations.
34. Laugh at their jokes.
35. Do things together.
36. Respect them.
37. Find a common interest.
38. Do what they like to do.
39. Applaud their success.
40. Contribute to their collections.
41. Read aloud together.
42. Accept them as they are.
43. Share a meal together.
44. Go places together.
45. Build something together.
46. Make decisions together.
47. Help them learn something new.
48. Be honest with them.
49. Encourage them to help others.
50. Let them make mistakes.
51. Admit when you make a mistake.
52. Be nice to them.
53. Act you care as you said you care.
Ways to Show People You Care :
1. Notice them.
2. Smile at them.
3. Encourage them to think big.
4. Look them in the eye when you talk to them.
5. Ask them about themselves.
6. Let them tell you how they feel.
7. Listen to their stories.
8. Call them on the phone just to say hi.
9. Answer their questions.
10. Ask them their opinions.
11. Give them your undivided attention.
12. Believe what they say.
13. Tell them what you like about them.
14. Delight in their discoveries.
15. Listen to their favorite music with them.
16. Tolerate their interruptions.
17. Suggest better behaviors when they act up or act out.
18. Show up at their games, concerts, and special events.
19. Tell them how much you like being with them.
20. Tell them about yourself.
21. Help them take a stand, then stand with them.
22. Ask them to help you with something.
23. Keep the promises you make to them.
24. Tell them how proud you are of them.
25. Send them a letter, postcard, or e-mail.
26. Introduce them to your friends and family.
27. Make time to be with them.
28. Be excited when you see them.
29. Notice when they grow.
30. Remember their birthdays.
31. Believe in them.
32. Meet their friends and family.
33. Include them in conversations.
34. Laugh at their jokes.
35. Do things together.
36. Respect them.
37. Find a common interest.
38. Do what they like to do.
39. Applaud their success.
40. Contribute to their collections.
41. Read aloud together.
42. Accept them as they are.
43. Share a meal together.
44. Go places together.
45. Build something together.
46. Make decisions together.
47. Help them learn something new.
48. Be honest with them.
49. Encourage them to help others.
50. Let them make mistakes.
51. Admit when you make a mistake.
52. Be nice to them.
53. Act you care as you said you care.
Kamis, 14 Februari 2008
Aku akan baik-baik saja
Terkadang medical treatment yang kujalani membuatku hampir menyerah. Benar2 menguras seluruh energy ku. Rontoknya rambut bukan masalah besar untukku. Menjadi botak sih aku bisa menghadapinya. Tetapi rasa mual yang tidak ada tandingannya. Muntah yang tiada hentinya. Sampai seluruh isi perut habis. Perut kram. Ga bisa mengangkat tubuhku sendiri untuk beranjak dari suatu tempat ke tempat lain. Benar2 menyiksa. Apalagi berada di negeri orang. Jauh dari keluarga.
Tapi aku tidak ingin menyerah. aku harus tetap kuat. Aku harus sembuh. Aku harus hidup. Lebih lama lagi. Masih banyak hal yang ingin aku lakukan. Aku masih ingin mengunjungi Moscow. Masih ingin pergi ke Hawaii. Ingin melakukan perjalanan melintasi Eropa. Lebih dari itu semua, aku belum sempat melintasi semua wilayah di Indonesia Timur.
Jadi, aku harus sembuh. Pagi ini aku akan pergi ke salon untuk menata rambutku. Aku ingin tetap terlihat cantik. Biaya untuk menggunting rambut disini mahal sekali. Tapi tidak mengapa. Sesekali menyenangkan diri sendiri. Aku layak mendapatkannya setelah semua yang aku lalui.
Dengan menumpang bus aku menuju pusat kota. Lalu turun di perhentian di depan tempat makan. Aku memutuskan untuk masuk dulu. Masih terlalu pagi. Aku putuskan untuk memesan secangkir kopi. Aku membaca buku yang kubawa. Buku yang dikirim temanku untuk menemani hari2 ku di rumah. Menarik sekali. tentang beberapa jiwa yang hidup di dalam satu tubuh.
Aku terkejut ketika cahaya matahari membuatku silau. Aah, sudah lebih dari 1 jam ternyata aku disini. Saatnya beranjak ke salon. Aku keluar dari coffeeshop dan melangkahkan kakiku dengan ringan ke tempat penata rambut.
Sergio, stylist yang ku kenal menyambutku. Dia bawel sekali, bertanya ini dan itu. Tapi itulah Sergio. Seorang yang sangat menyenangkan. Lalu dengan sigapnya dia menata rambutku yang sudah semakin tipis.
Setelah selesai, aku pun terkagum2 dengan hasilnya. Sergio langsung mengambil camera polaroidnya dan menjepret nya. Photonya aku bawa pulang. Tidak lupa memberikan tip buat Sergio. Dari salon aku tidak langsung pulang. Aku pergi e toko buku. melihat - lihat saja. Siapa tahu ada buku menarik lagi.
Aku selalu tertarik membaca buku2 advertising. Aku sudah membelinya beberapa. Philosophy nya yang bagus. Sebenarnya ilmunya bisa diterapkan dalam semua bidang.
Aku mulai kelelahan. Saatnya pulang. Kembali dengan bus. Aku tiba di dekat rumah bersamaan dengan Niklas tiba disana. Kamipun berjalan bersama menuju rumah. Dimitri ternyata ada di rumah. Dia sudah menyiapkan makan malam untuk kita semua.
Setelah menikmati makan malam, kamipun duduk2 santai sambil minum kopi dan tentu saja, bahasan kami kembali ke buku yang sedang aku baca. menjelang tengah malam, aku memutuskan masuk ke kamar. Dimitri ikut dengan ku. Menjatuhkan tubuhku kedalam tempat tidur dengan sprei putih dan halus ini benar2 suatu kenikmatan tersendiri. Dimitri berbaring disampingku. Dimitri selalu berdoa bersamaku sebelum aku tidur. Dimitri bilang kalau semua akan baik2 saja. Kalimat itu terus dibisikkannya ketelinga ku sampai aku tertidur lelap.
Senin, 14 Januari 2008
The New Me
Melirik jam ditangan, sudah masuk tahun baru. Ini malam tahun baru yang paling sepi sejak 10 tahun terakhir. Niklas dan Dimitri pergi bermalam tahun baru di kota, well hanya bar kecil sebenarnya. Tapi aku terlalu lemah untuk ikut dengan mereka. Dan akupun tidak ingin menahan mereka dari bersenang-senang. Telepon berdering. Dimitri dan Niklas berebut berbicara denganku, mengucapkan selamat tahun baru.
Kondisi fisikku kian melemah. Sejak dokter memvonis ku terkena cancer stadium 2B, aku merasa semakin hari semakin menyebalkan. Aku berusaha menghadapinya, tapi tubuhku seperti kehilangan energy. Tidak banyak yang bisa kau lakukan selain jalan-jalan disekitar rumah. Setiap pagi Dimitri dan Niklas bergantian menemaniku berjalan-jalan. Agar otot-ototku tidak kaku. Aku kasihan sama mereka, dua lelaki yang paling aku sayangi. Mereka pasti lelah sekali menghadapi ini semua.
Aah, sudahlah. Cukup sudah berkeluh kesah. Saatnya bangkit. Ini tahun baru. Aku ingin sembuh. Aku ingin bisa membahagiakan lebih banyak orang lagi. Aku masih ingin melintasi benua. Aku ingin traveling lebih jauh lagi. Dan ya, aku ingin menikah.
Biaya medical disini mahal sekali, untung saja asuransi mengcovernya. Tahun baru ini aku akan bangkit. Aku ingin hidup seperti orang normal lainnya. Aku tidak ingin menyerah pada penyakit yang menggerogoti tubuhku. Malam ini, aku telah menyiapkan pakain terbaikku yang akan aku gunakan besok pagi. Aku ingin berjalan pagi, seorang diri. Berjalan lebih jauh dari biasanya. Aku tahu, besok pagi, semua orang tentunya masih terlelap dan memanjangkan waktu tidur mereka setelah party malam ini. Aku ingin menjadi orang pertama yang menyapa pagi. Aku memanaskan susu, meminumnya. Dan segera masuk ke tempat tidur. Baru kali ini aku merasa benar-benar senang pergi tidur.
Alarm berdering sayup-sayup di telingaku. Aku terjaga. Selamat pagi. Aku mengucapkan selamat pagi untuk diriku sendiri. Lalu akupun bersiap-seiap melanjutkan rencana ku. Sebelum keluar rumah, aku sempat melongokok ke kamar Niklas. Niklas masih terlelap. Dimitri tidur di sofa. Kelihatannya dia tidak ingin memangunkanku semalem. Aku membiarkan mereka. Segera keluar. Udara pertama yang kuhirup begitu segar. Masuk ke seluruh relung jiwa ku. Serasa aku mendapat energy baru. Ya semoga saja, ini awal yang baik untuk ku.
Senin, 24 Desember 2007
Xmas Eve
Gereja serasa tidak seramai biasanya. Aku sempet bersalaman dengan beberapa teman. Lalu aku bergegas kembali kerumah. Aku kedinginan sekali. Niklas masih di gereja, ada dinner bersama.
Setiba di rumah aku langsung masuk ke dalam selimut. Tidak biasanya aku seperti ini. Aku rasa malaria ku kambuh. Aku menggigil tidak karuan. Berusaha mencari obat tapi ternyata aku sudah tidak punya lagi. Aku paksakan diriku untuk membuat teh panas. Meneguknya dengan cepat. Lidah ku terbakar, tapi badan ku sedikit lebih baik. Akhirnya aku berusaha memejam kan mata kembali ke tempat tidur.
Kalau lagi sakit begini, aku berharap Dimitri ada disini. Dia yang paling tau bagaimana menghandle hal ini. Tapi kabarpun tidak ada. Aku tidak tau dia ada di belahan negeri mana saat ini. Mayaku mulai memejam. Badanku perlahan2 mulai hangat. Aku pun terlelap.
Aku setengah terbangun sambil mengusap airmata ku. Aku bermimpi Dimitri. Aku kangen sekali. Tapi bagaimana bisa menghuunginya. Aku bangun dari ranjangku. Melihat jam dipergelangan tanganku, pukul 02.14 dini hari. Sayup2 aku mendengar ada orang bercakap2 di ruang depan. Niklas. Tapi dengan siapa? Aku melangkah ke depan. Sedikit pusing. Dan waaaaa...aku langsung lari dan memeluk nya. Dimitri disana. Oh Tuhan, aku kangen sekali. Dimitri langsung memegang wajah dan leherku. Ya, aku tau, badan ku panas sekali. Tapi aku bahagia sekali. Air mata ku kembali mengalir deras dalam tawa ku. Niklas tertawa2. Akhirnya doa ku terkabul. Aku sangat ingin Dimitri berada diantara kami saat Xmas datang. Miracle itu ada. Sepanjang malam sampai pagi kami hanya duduk2 mengobrol. Aku senang sekali duduk disamping Dimitri dan tangannya tidak lepas merangkulku.
Sambil memejamkan mata, aku bersukur, Terima kasih Tuhan, untuk berkah indah di hari Natal ini. Merry Xmas Niklas, Merry Xmas Dimitri.
Setiba di rumah aku langsung masuk ke dalam selimut. Tidak biasanya aku seperti ini. Aku rasa malaria ku kambuh. Aku menggigil tidak karuan. Berusaha mencari obat tapi ternyata aku sudah tidak punya lagi. Aku paksakan diriku untuk membuat teh panas. Meneguknya dengan cepat. Lidah ku terbakar, tapi badan ku sedikit lebih baik. Akhirnya aku berusaha memejam kan mata kembali ke tempat tidur.
Kalau lagi sakit begini, aku berharap Dimitri ada disini. Dia yang paling tau bagaimana menghandle hal ini. Tapi kabarpun tidak ada. Aku tidak tau dia ada di belahan negeri mana saat ini. Mayaku mulai memejam. Badanku perlahan2 mulai hangat. Aku pun terlelap.
Aku setengah terbangun sambil mengusap airmata ku. Aku bermimpi Dimitri. Aku kangen sekali. Tapi bagaimana bisa menghuunginya. Aku bangun dari ranjangku. Melihat jam dipergelangan tanganku, pukul 02.14 dini hari. Sayup2 aku mendengar ada orang bercakap2 di ruang depan. Niklas. Tapi dengan siapa? Aku melangkah ke depan. Sedikit pusing. Dan waaaaa...aku langsung lari dan memeluk nya. Dimitri disana. Oh Tuhan, aku kangen sekali. Dimitri langsung memegang wajah dan leherku. Ya, aku tau, badan ku panas sekali. Tapi aku bahagia sekali. Air mata ku kembali mengalir deras dalam tawa ku. Niklas tertawa2. Akhirnya doa ku terkabul. Aku sangat ingin Dimitri berada diantara kami saat Xmas datang. Miracle itu ada. Sepanjang malam sampai pagi kami hanya duduk2 mengobrol. Aku senang sekali duduk disamping Dimitri dan tangannya tidak lepas merangkulku.
Sambil memejamkan mata, aku bersukur, Terima kasih Tuhan, untuk berkah indah di hari Natal ini. Merry Xmas Niklas, Merry Xmas Dimitri.
Langganan:
Postingan (Atom)
